JATINANGOR EKSPRES – Keraton Sumedang Larang kembali ditegaskan sebagai pusat atau episentrum kebudayaan Sunda di Kabupaten Sumedang. Peran keraton dinilai bukan sekadar simbol sejarah, melainkan penggerak utama kesinambungan adat, tradisi, dan nilai-nilai luhur peradaban Sunda.
Penegasan tersebut disampaikan Menteri Luar Keraton Sumedang Larang, R. Asep Sulaiman Fadil Adiwinata, yang menekankan bahwa keraton memiliki posisi strategis dalam menjaga identitas budaya Sunda di tengah arus modernisasi.
Menurut Asep, tugas Menteri Luar Keraton tidak hanya membangun relasi kelembagaan, tetapi juga memperkuat hubungan strategis dengan pemerintah daerah, masyarakat adat, masyarakat luas, serta organisasi-organisasi perkeratonan di Nusantara.
Baca Juga:Rp12,5 Miliar Digelontorkan, Bupati Sumedang Ingatkan Petani Ujungjaya Jangan Jual SawahJatinangor yang Tertinggal di Balik Kampus: 15 Hektare Kawasan Kumuh Jadi Alarm Pembangunan Sumedang
“Peran Menteri Luar bukan sekadar hubungan formal, tetapi juga sebagai duta, mediator, negosiator, sekaligus juru bicara keraton dalam menyampaikan nilai-nilai budaya kepada publik,” ujarnya.
Jejaring Keraton hingga Tingkat Nasional
Dalam menjalankan perannya, Keraton Sumedang Larang aktif menjalin komunikasi dan kerja sama dengan berbagai forum perkeratonan nasional, seperti Majelis Adat Kerajaan Nusantara (MAKN) dan Forum Silaturahmi Keraton Nusantara (FSKN).
Jejaring ini dinilai penting untuk menyelaraskan program budaya antarkeraton agar pelestarian adat dan tradisi berjalan berkesinambungan serta berdampak luas bagi masyarakat.
Agenda Budaya Rutin Sepanjang Tahun
Asep menjelaskan, Keraton Sumedang Larang memiliki agenda budaya tahunan yang dilaksanakan secara konsisten. Di antaranya Kirab Panji, Kirab Mahkota Kemaharajaan Sunda, Kirab dan Jamasan Pusaka Keraton dalam rangka Maulid Nabi Muhammad SAW, serta peringatan Muharraman, Haul, dan Rajaban.
Selain itu, keraton juga aktif terlibat dalam tradisi masyarakat adat seperti Ngalaksa, Ngarod, Babarit, Mitembean, Ampih Pare, Ngagogo, Marak, dan Ngoyak Empang, hingga menghadiri rangkaian Buku Tahun Hajat Desa di berbagai wilayah Kabupaten Sumedang.
“Seluruh kegiatan ini merupakan bagian dari peran keraton sebagai pusat pelestarian budaya Sunda,” katanya.
Sejalan dengan Sumedang Puseur Budaya Sunda
Peran Keraton Sumedang Larang, lanjut Asep, sejalan dengan kebijakan Pemerintah Kabupaten Sumedang yang menetapkan daerah ini sebagai Sumedang Puseur Budaya Sunda (SPBS) atau pusat peradaban Sunda.
Baca Juga:Ayam Rengganis Cabe Hijau: Pedas Asli Rawit Hijau yang Menghidupkan Selera Warga Sumedang1.372 Mahasiswa UNSAP Turun ke 68 Desa, KKN Tematik Dorong Desa Digital dan Zero Waste
Ia menegaskan, Sumedang memiliki kekhasan karena menyimpan amanat sejarah besar peradaban Sunda. Berbagai pusaka, manuskrip, dan artefak peninggalan Kerajaan Sunda, Galuh, Pajajaran, hingga Kerajaan Sumedang Larang masih terjaga di wilayah ini.
