“Keraton berfungsi sebagai penjaga sekaligus penggerak agar nilai-nilai luhur itu tetap hidup dan relevan dengan perkembangan zaman,” ucapnya.
Tritangtu dan Tantangan Zaman Modern
Dalam tata kelolanya, Keraton Sumedang Larang menerapkan konsep kearifan lokal Sunda Tritangtu, yakni sistem kepemimpinan kolektif-kolegial yang menekankan keseimbangan nilai, kemampuan adaptasi, dan kebijaksanaan spiritual.
Asep juga menyoroti tantangan global yang semakin kompleks. Menurutnya, di tengah dominasi sistem materialistik, kearifan lokal Sunda justru menawarkan solusi melalui ketahanan budaya, ketahanan pangan, dan kemandirian nilai.
Baca Juga:Rp12,5 Miliar Digelontorkan, Bupati Sumedang Ingatkan Petani Ujungjaya Jangan Jual SawahJatinangor yang Tertinggal di Balik Kampus: 15 Hektare Kawasan Kumuh Jadi Alarm Pembangunan Sumedang
“Leluhur Sunda telah menyiapkan konsep peradaban yang berorientasi pada keberlanjutan, bukan hanya untuk hari ini, tetapi juga bagi generasi masa depan,” tuturnya.
Ia berharap Keraton Sumedang Larang tetap menjadi pusat rujukan peradaban Sunda dan Nusantara, sekaligus berkontribusi dalam merumuskan nilai-nilai kebangsaan yang berakar pada kearifan leluhur.(lai)
