Gelap Gulita di Jalur Bandung–Garut, Kenapa Balap Liar Justru Marak di Depan Kahatex?

Balap liar di jalan Bandung-Garut depan Kahatex
Tangkapan layar video balap liar di ruas Jalan Bandung–Garut depan PT Kahatex yang viral di media sosial akibat minimnya penerangan jalan.
0 Komentar

JATINANGOR – Mengapa balap liar semakin sering muncul di ruas Jalan Raya Bandung–Garut, khususnya di depan PT Kahatex? Pertanyaan itu mencuat seiring gelapnya jalur vital tersebut pada malam hari akibat minimnya penerangan jalan umum (PJU).

Ruas jalan dari arah Cileunyi hingga Parakanmuncang terlihat gelap dan lengang saat malam tiba. Kondisi inilah yang diduga dimanfaatkan sekelompok remaja untuk menggelar balapan liar, aksi berbahaya yang mengancam keselamatan pengguna jalan.

Fenomena ini ramai diperbincangkan setelah video balap liar di lokasi tersebut beredar luas di media sosial. Dalam rekaman itu, tampak puluhan remaja memadati badan jalan, bahkan berani menghentikan kendaraan yang melintas demi melancarkan aksi kebut-kebutan.

Baca Juga:Tanpa Dana Ketahanan Pangan, Desa Sukawening Jalankan Program Jagung Berbasis KolaborasiDiklaim Hampir 100 Persen, Jalan Cimanggung Ternyata Masih Rusak di Sejumlah Titik

Lokasi balapan liar disebut kerap terjadi di sekitar depan PT Kahatex, tepat di perbatasan Kecamatan Jatinangor dan Cimanggung, Kabupaten Sumedang. Minimnya penerangan dan pengawasan pada malam hari membuat kawasan tersebut rawan disalahgunakan.

Kasi Humas Polres Sumedang AKP Awang Munggardijaya membenarkan adanya aktivitas balapan liar di jalur Bandung–Garut yang melibatkan puluhan remaja.

“Polres Sumedang telah melaksanakan patroli skala besar dengan melibatkan personel gabungan dari enam Polsek di wilayah barat Sumedang,” ujar Awang.

Ia menjelaskan, patroli dilakukan tidak hanya untuk membubarkan balapan liar, tetapi juga sebagai upaya pencegahan berbagai potensi gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat.

“Patroli menyasar pelajar yang masih berada di luar rumah pada malam hari, titik rawan premanisme, objek vital, permukiman warga, serta ruas jalan yang kerap dijadikan lokasi balap liar,” jelasnya.

Kehadiran aparat di lapangan juga bertujuan memetakan wilayah rawan tindak pidana, termasuk kejahatan C3 (curat, curas, dan curanmor), agar langkah pencegahan dapat dilakukan secara berkelanjutan.

“Patroli gabungan akan terus dilakukan secara rutin demi menciptakan rasa aman dan kenyamanan masyarakat,” tegas Awang.

Baca Juga:Bukan Sekadar Warisan, Keraton Sumedang Larang Ditegaskan sebagai Episentrum Budaya SundaBanyak Dikira Penentu Lulus, Ini Fakta TKA SD–SMP 2026 yang Digelar April

Kondisi minim PJU di jalur strategis ini pun memunculkan pertanyaan lanjutan: sejauh mana kesiapan infrastruktur jalan dalam menjamin keselamatan publik, dan bagaimana solusi jangka panjang agar ruas Bandung–Garut tak lagi menjadi arena balap liar? (kos)

0 Komentar