5. Reggae
Gaya busana reggae adalah gaya berpakaian yang berakar di Jamaika. Gaya ini terutama terdiri dari warna-warna cerah, pola-pola yang berani, dan bahan-bahan alami seperti linen dan katun. Dicirikan oleh keringanan, kealamian, gaya santai, warna-warna cerah, kain ringan (katun atau linen), celana jeans lebar, dan sepatu sneakers yang nyaman, mencerminkan pandangan yang positif dan damai.
6. Grunge
Grunge adalah gerakan rock alternatif yang muncul pada akhir tahun 80-an dan awal 90-an. Hal ini dipengaruhi oleh musik punk rock yang menginspirasi orang untuk berpakaian sederhana. Mereka lebih suka mengenakan jeans robek dan sweater kebesaran, menunjukkan sifat pemberontak mereka.
7. Tekno
Tekno berasal dari Detroit pada tahun 1988, membawa suara elektronik ke klub dan menciptakan suasana yang intens di mana semua orang berpakaian mewah. Ini termasuk pakaian rave berwarna neon seperti tutu dan legging. Itu adalah potongan pokok di antara wig neon, semuanya dipadu dengan riasan yang sama berani, menciptakan sesuatu yang mirip dengan fantasyland di antara clubber yang merangkul gaya uniknya.
Baca Juga:Wajib Dicoba, Spot Photobooth di Jatinangor Biar Instagram-mu Makin Estetik!Bosan Dengan Saus Bolognese? Berikut 5 Resep Spaghetti Otentik yang Bisa Dicoba di Rumah
Hubungan antara selera musik dan gaya berpakaian ini melampaui sekadar pilihan pakaian, dan menyimpukan interaksi simbiosis di mana suasana hati, sikap, dan akar budaya dari sebuah genre musik menemukan ekspresinya melalui pakaian, menambahkan lapisan penceritaan visual pada narasi melodik. Musisi sering kali menjadi influencer mode, semakin memperkuat hubungan ini. Pengaruh ini juga diperkuat oleh media sosial, yang menampilkan pertukaran dinamis antara musik dan mode.
