JATINANGOR EKSPRES – Kita sering menjadi hakim yang paling kejam bagi diri kita sendiri.Saat kegagalan datang atau seseorang pergi, suara di kepala kita biasanya mulai berbisik: “Ini terjadi karena aku kurang cukup,” atau “Aku pantas mendapatkannya.” Namun, mari kita luruskan satu hal hari ini: Luka bukanlah bukti bahwa kamu cacat. Luka adalah tanda bahwa kamu telah berani berinteraksi dengan hidup yang tidak terduga.
Ketika perselingkuhan terjadi rasa sakitnya nyata perpaduan antara kemarahan, rendah diri, dan kebingungan yang luar biasa. Namun, seperti halnya kabut yang pasti akan terangkat saat matahari naik, luka ini pun punya waktu untuk reda. Rasa sakit yang kamu rasakan saat ini tidak sedikit pun mengurangi nilai dirimu sebagai manusia. Sudah saatnya kita berhenti mencambuk diri atas hal-hal yang sebenarnya berada di luar kendali kita.
Sebelum melangkah lebih jauh, langkah pertama yang harus kamu lakukan ialah, berdamai dengan dirimu sendiri. Bukan kamu yang salah atas apa yang terjadi atas pengkhianatan dan kepergiannya.
Baca Juga:Sahabat Tak Biasa: Hewan Peliharaan Unik yang Bisa Menjadi Teman Sejati Selain Kucing dan AnjingSering Merasa Lelah Padahal Tidak Banyak Beraktivitas? Bisa Jadi Ini yang Disebut Mental Fatigue
Jangan terus terusan terjebak dalam jebakan “aku kurang apa”. Tidak kamu tidak kurang dalam segala hal, dia yang tidak bisa bersyukur atas apa yang sudah dia dapatkan. Bangkit lah perlahan dari rasa sakit yang kamu rasakan. Menangislah selagi kau belum puas melepaskan semua rasa sakit yang kamu rasakan.
Mencintai diri sendiri bukanlah sebuah tujuan instan, melainkan sebuah perjalanan panjang menembus kabut sebuah keberanian untuk tetap berjalan meski kompas kepercayaan kita baru saja dipatahkan secara paksa.Pengkhianatan tidak pernah datang dengan peringatan. Ia datang seperti hujan mendadak di Jatinangor dingin, membasahi tanpa ampun, dan membuat segalanya menjadi buram.
Di sepanjang jalan yang dulu penuh tawa, kini hanya ada gema janji yang diingkari. Rasanya sulit membedakan mana yang lebih menyesakkan kenyataan bahwa dia pergi, atau kenyataan bahwa dia tidak pernah benar-benar jujur dan mencintaimu saat bertahan. Seringkali, pertanyaan pertama yang muncul bukanlah “kenapa dia tega?”, melainkan “apa yang salah dengan diriku?”.
