JATINANGOR EKSPRES – Istilah brainrot belakangan ini makin sering muncul di berbagai platform media sosial seperti TikTok, terutama di kalangan anak muda. Kata ini biasanya dipakai untuk bercanda, tapi banyak yang merasa kondisi tersebut benar-benar nyata dalam keseharian.
Brainrot adalah istilah slang di internet yang menggambarkan kondisi ketika otak terasa tumpul, lemot, sulit fokus, dan seperti dipenuhi hal-hal random tidak penting akibat konsumsi konten yang berlebihan. Meski bukan istilah medis, fenomenanya cukup relevan dengan pola hidup modern.
Banyak orang mengalami situasi ini, niat membuka ponsel hanya sebentar, tapi tak terasa, waktu habis berjam-jam untuk scroll video pendek, meme, atau konten random berbasis AI. Setelahnya, bukannya segar, otak justru menjadi sulit untuk kembali fokus.
Baca Juga:Warga Berhasil Gagalkan Pencurian Motor, Terduga Pelaku Kini Dalam Pengejaran PolisiUnik dan Kontroversial: Makanan Indonesia yang Enak Di Mulut Sebagian Orang
Fenomena ini berkaitan erat dengan cara kerja otak terhadap stimulus cepat. Konten pendek dengan cerita super singkat, visual nyentrik, dan hiburan instan memberi rangsangan konstan yang membuat otak terbiasa dengan perubahan yang terlalu cepat. Akibatnya, aktivitas seperti belajar atau membaca yang membutuhkan fokus lebih lama sehingga terasa menjadi lebih membosankan.
Salah satu tanda yang sering dikaitkan dengan brainrot adalah menurunnya rentang perhatian. Daya fokus jadi mudah pecah, bahkan untuk tugas sederhana. Hal yang dulu terasa normal kini terasa berat karena otak sudah terbiasa dengan distraksi tanpa henti.
Selain itu, brainrot juga sering membuat seseorang merasa lelah mental tanpa sebab jelas. Bukan karena aktivitas fisik berat, melainkan karena otak terus memproses banyak informasi secara cepat dalam jumlah yang besar.
Kondisi ini sering kali tidak disadari. Scroll terasa ringan dan santai, padahal otak masih menerima, menilai, dan merespons berbagai stimulus visual dan emosional dari video-video di media sosial.
Mengurangi dampak brainrot bisa dikurangi meskipun tanpa harus berhenti menggunakan media sosial secara total. Kuncinya ada pada kontrol konsumsi digital. Memberi jeda dari screentime dan membiasakan aktivitas yang butuh fokus lebih lama dapat membantu menormalkan kembali ritme otak agar aman dari brainrot.
