Ternyata Ini Alasan Kenapa Momen Lebaran yang Bahagia Justru Sering Dihadiri Rasa Menyesakkan

Ternyata Ini Alasan Kenapa Momen Lebaran yang Bahagia Justru Sering Dihadiri Rasa Menyesakkan
Ternyata Ini Alasan Kenapa Momen Lebaran yang Bahagia Justru Sering Dihadiri Rasa Menyesakkan (ISTIMEWA)
0 Komentar

JATINANGOR EKSPRES – Lebaran selalu datang dengan wajahnya yang sama, hangat, ramai, dan penuh kebahagiaan bersama keluarga besar. Setiap tahun, momen ini seolah-olah menjanjikan suasana yang akrab dan sejuk, tak pernah berubah.

Anehnya, seiring bertambah usia, nostalgia tidak lagi terasa sederhana seperti dulu. Ada suatu perasaan lain yang selalu muncul tanpa diundang, tanpa aba-aba. Perasaan haru yang sulit untuk dijelaskan dengan kata-kata, rindu yang berat, hingga sensasi menyesakkan di dada saat suasana justru sedang bahagia.

Ternyata, beberapa hal ini adalah alasan mengapa nostalgia Lebaran terasa berbeda dari tahun ke tahun.

1. Lebaran Mengingatkan Masa Lalu

Baca Juga:Bangun Mepet Imsak? Ini Resep Sahur 5 Menit ala Mahasiswa Unpad & ITB.Tempat Bukber Nyaman dan Ramah di Kantong, Jatinangor

Lebaran punya cara unik untuk membuka kenangan lama. Suara takbiran di mesjid, aroma masakan rumah saat subuh menjelang solat idul fitri, hingga suasana berkumpul bersama keluarga sering jadi pemicu ingatan tentang masa kecil yang bebas, hangat, tanpa beban.

Masalahnya, momen-momen seperti itu tidak bisa terulang dengan cara yang sama. Waktu hanya melaju ke satu arah, orang-orang berubah, dan hidup membawa setiap orang ke jalannya masing-masing. Lalu menyadarkan kita bahwa yang tersisa hanya perbandingan dulu dan sekarang yang benar-benar berbeda.

Disitulah saat rasa sesak di dada sering muncul. Bukan karena lebarannya yang beda, tapi memori masa lalu memang secara mutlak tidak bisa kembali.

2. Hadirnya Seseorang yang Sudah Pergi

Semakin dewasa, Lebaran juga sering diikuti dengan kesadaran akan hal yang membuat suasana menjadi lebih sunyi. Ada kursi yang kosong, tawa yang tak lagi terdengar, atau sosok yang dulu selalu ada namun kini tinggal kenangan. Entah itu seseorang yang sudah meninggal, atau yang menjalani hidup jauh dari keluarga.

Lebaran yang dulu identik dengan kebersamaan perlahan berubah menjadi momen refleksi. Bukan hanya tentang siapa yang hadir, tetapi juga tentang siapa yang kini hanya bisa diingat.

Perasaan rindu semacam ini sering kali terasa aneh. Hangat sekaligus menyakitkan.

3. Sadar Bahwa Kenangan Indah Justru Terasa Paling Menyesakkan

Ironisnya, nostalgia paling kuat sering datang dari kenangan yang paling indah. Momen sederhana yang dulu terasa biasa saja kini terlihat begitu berharga dan romantis ketika sadar bahwa kenangan tersebut tak bisa diulang.

0 Komentar