JATINANGOR EKPRES, TANJUNGKERTA – Suasana khidmat dan penuh haru menyelimuti pelaksanaan Haflah Akhirussanah Madrasah Diniyah di Pondok Pesantren Al-Hikamussalafiyyah, baru-baru ini.
Dalam kesempatan tersebut, Pimpinan Pesantren, KH. Sa’dulloh, menyampaikan pesan mendalam kepada para santri melalui sebuah kisah sederhana namun sarat makna.
Mengawali sambutannya, kiyai bercerita tentang seorang tukang bangunan bernama Mang Udin.
Baca Juga:Jembatan Tuntas Dibangun, Aktivitas Warga Kini Kembali Lancar5 Menu Takjil Buka Puasa Sehat, Manis, dan Segar yang Bikin Nagih
Sosok ini dikenal rapi, teliti, dan ahli dalam membangun. Karena keahliannya, ia dipercaya menangani berbagai proyek besar, termasuk proyek pemerintah. Namun dalam perjalanannya, Mang Udin kerap menggunakan bahan berkualitas rendah dan mengurangi takaran demi keuntungan pribadi.
Waktu terus berlalu. Mang Udin sibuk membangun banyak gedung megah, tetapi lupa membangun rumah untuk dirinya sendiri. Hingga suatu hari, sang bos memintanya membangun sebuah rumah.
Seperti biasa, ia mengerjakannya dengan kualitas seadanya. Setelah selesai, sang bos berkata bahwa rumah tersebut adalah hadiah untuk Mang Udin atas pengabdiannya selama ini.
Mendengar itu, Mang Udin terdiam. Ia menyesal karena rumah yang dibangunnya dengan kualitas rendah ternyata adalah untuk dirinya sendiri.
Dari kisah tersebut, kiyai mengajak para santri mengambil ibrah bahwa menuntut ilmu di pesantren sejatinya adalah proses membangun rumah kehidupan masing-masing. Apa yang dilakukan hari ini akan kembali kepada diri sendiri di masa depan.
“Kalau belajar alakadarnya, maka hasilnya pun alakadarnya. Tapi kalau sungguh-sungguh dan ikhlas, insya Allah hasilnya kokoh dan membahagiakan,” pesan kiyai di hadapan para santri.
Kiyai menegaskan bahwa kesuksesan tidak lahir secara instan, melainkan dari ketekunan mencintai proses. Santri diminta untuk mensyukuri dan mencintai perannya hari ini sebagai penuntut ilmu, karena dari proses itulah masa depan dibangun.
Baca Juga:Kebakaran Hebat Melanda Mall di Jalan Alternatif Cibubur, Kota BekasiMasyaAllah! 5 Keutamaan Membaca Al-Qur’an di Bulan Suci Ramadhan yang Jarang Disadari
Selain itu, kiyai juga mendorong para santri untuk banyak membaca sejarah orang-orang sukses sebagai motivasi. Menurutnya, ilmu adalah investasi terbaik dalam kehidupan. Banyak keluarga yang mampu bangkit dari keterbatasan karena memiliki generasi yang bersungguh-sungguh dalam belajar.
Haflah Akhirussanah tahun ini pun menjadi momentum refleksi bagi seluruh santri untuk menata niat, memperkuat semangat, dan memperbaiki kualitas ikhtiar dalam menuntut ilmu. Kisah Mang Udin diharapkan menjadi pengingat bahwa setiap proses yang dijalani hari ini sejatinya adalah bangunan masa depan yang akan ditempati sendiri.
