Tradisi Munggahan Khas Sumedang: Dari Gembrong Liwet Hingga Ritual Suci di Cikandung

Kemeriahan tradisi Munggahan masyarakat Sumedang, mulai dari makan nasi liwet bersama hingga tradisi menangkap
Kemeriahan tradisi Munggahan masyarakat Sumedang, mulai dari makan nasi liwet bersama hingga tradisi mandi di Muara Sungai Cikandung. (foto:Radar Tasikmalaya)
0 Komentar

JATINANGOR EKSPRES – Munggahan adalah istilah masyarakat suku Sunda dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadan. Kegiatan ini rutin dilakukan karena saat bulan Ramadan nanti, kita tidak lagi bisa berkumpul untuk makan bersama di siang hari.

Masyarakat Jawa Barat, khususnya di Kabupaten Sumedang, memiliki tradisi munggahan tersendiri yang selalu menjadi agenda tahunan. Tradisi ini telah mendarah daging dan menjadi budaya yang dijunjung tinggi oleh masyarakat Sumedang sebagai bentuk suka cita menyambut bulan penuh berkah.

Rangkaian Tradisi Munggahan Masyarakat Sumedang

Berikut adalah tiga tradisi unik yang biasa dilakukan warga Sumedang menjelang Ramadan:

1. Gembrong Liwet

Baca Juga:Stres Bukan Hal Biasa! Kenali Dampaknya dan 5 Olahraga Penghancur Hormon KortisolLutut Sering Berbunyi Saat Olahraga? Waspada Osteoarthritis Mengintai Masa Tuamu!

Gembrong Liwet adalah kegiatan makan bersama nasi liwet yang dimasak dalam banyak kastrol (panci khusus liwet) besar. Secara harfiah, Gembrong Liwet memiliki arti berkumpul dan memasak nasi liwet secara bersama-sama. Tradisi ini mempererat tali silaturahmi dan rasa kebersamaan antarwarga sebelum memasuki masa puasa.

2. Ngagogo Lauk

Ngagogo lauk memiliki arti menangkap ikan dengan tangan kosong. Dalam bahasa Sunda, lauk berarti ikan. Tradisi ini menuntut kemahiran untuk menangkap ikan yang masih hidup di dalam kolam tanpa bantuan alat apa pun.

Pelaksanaannya cukup seru dan sederhana; masyarakat, baik tua maupun muda, akan turun langsung ke kolam untuk berburu ikan. Suasana penuh canda tawa dan suka cita pecah saat warga saling berebut menangkap ikan yang nantinya akan dimasak untuk makan bersama.

3. Mandi Massal di Muara Sungai Cikandung

Mandi massal di muara Sungai Cikandung bukan sekadar tradisi biasa. Kegiatan ini dilakukan sebagai simbol penyucian diri lahir dan batin sebelum melaksanakan ibadah di bulan Ramadan. Masyarakat percaya bahwa dengan membersihkan diri di sungai ini, mereka menjadi lebih siap dan “bersih” secara spiritual untuk menjalani puasa sebulan penuh.

Itulah deretan tradisi munggahan unik masyarakat Sumedang yang dilakukan setiap tahun. Tradisi-tradisi ini menjadi pengingat bahwa Ramadan adalah bulan yang patut disambut dengan kegembiraan dan hati yang bersih.

0 Komentar