Menunggu Azan Bersama Cepot, Ketika Budaya dan Ramadan Saling Menguatkan di Geoteater Rancakalong

Menunggu Azan Bersama Cepot, Ketika Budaya dan Ramadan Saling Menguatkan di Geoteater Rancakalong
Ilustrasi - Berbagai penampilan seni dan  budaya mampu memukau penonton  Ekosistem Budaya Kasumedangan yang digelar di Geoteater Rancakalong, baru-baru ini.(Dok. Humas Pemkab)
0 Komentar

JATINANGOR EKSPRES- Dari panggung kayu sederhana, Cepot menggoyang kepala dan melontarkan celetukan yang membuat anak-anak terpingkal, orang tua tersenyum, dan senja terasa lebih singkat.

Di bulan puasa, menunggu azan magrib biasanya identik dengan rasa lapar. Tapi sore itu, di Geoteater Rancakalong, yang terasa justru hangatnya budaya yang hidup kembali.

REDAKSI, Sumedang Ekspres

Senja di Rancakalong selalu punya caranya sendiri untuk turun perlahan. Matahari tak langsung tenggelam; ia seperti mampir sebentar di pucuk-pucuk bambu, memantulkan cahaya jingga ke pelataran Geoteater yang sore itu mulai dipenuhi warga.

Baca Juga:Seni Bertahan Hidup Hemat di Jatinangor: Strategi Cerdas Biar Dompet Nggak Menjerit

Anak-anak berlarian kecil, ibu-ibu menata tikar, para orang tua berbincang pelan sambil sesekali melirik jam di ponsel mereka. Waktu berbuka masih lama. Tapi panggung sudah lebih dulu hidup.

Sabtu (21/2) itu, Geoteater Rancakalong kembali menggulirkan denyut Ekosistem Budaya Kasumedangan yang kini memasuki pekan ke-15. Kali ini, kemasannya menyesuaikan bulan suci: Cepot Ngabuburit. Sebuah terobosan kecil yang terasa hangat, menghadirkan wayang golek sebagai teman menunggu azan magrib.

Cepot muncul dengan suara sengau khasnya. Lugas. Jenaka. Kadang nyeletuk tanpa tedeng aling-aling. Di balik tokoh kayu yang tampak ringan itu, tangan Dalang Ajang Rozikin dari Sanggar Hanjuang Sukma Nagara bergerak cekatan, ditemani Dian Sukmara.

Setiap gerakan tangan dalang seolah meniupkan napas ke tubuh kayu itu membuatnya hidup, menyindir, sekaligus mengajak berpikir.

Di tanah Sunda, wayang golek bukan sekadar tontonan. Ia adalah tuntunan. Sejak abad ke-18, kesenian ini tumbuh dari rahim dakwah dan kebudayaan, menjadikan cerita-cerita Mahabharata dan Ramayana sebagai medium menyampaikan nilai moral, etika, bahkan spiritualitas.

Cepot yang sering dianggap tokoh lucu sesungguhnya adalah suara rakyat. Ia bisa mengkritik penguasa, menertawakan diri sendiri, sekaligus menyelipkan hikmah.

Sore itu, dakwah tak hadir dalam bentuk ceramah panjang. Ia mengalir dalam dialog wayang. Tentang arti puasa sebagai laku menahan diri.

Baca Juga:

Tentang budaya yang tak perlu dipertentangkan dengan agama. Tentang Islam yang tumbuh akrab dengan tradisi, bukan memusnahkannya. Gelak tawa penonton pecah berkali-kali, tapi di sela itu ada jeda hening ketika pesan menyentuh hati.

0 Komentar