Menunggu Azan Bersama Cepot, Ketika Budaya dan Ramadan Saling Menguatkan di Geoteater Rancakalong

Menunggu Azan Bersama Cepot, Ketika Budaya dan Ramadan Saling Menguatkan di Geoteater Rancakalong
Ilustrasi - Berbagai penampilan seni dan  budaya mampu memukau penonton  Ekosistem Budaya Kasumedangan yang digelar di Geoteater Rancakalong, baru-baru ini.(Dok. Humas Pemkab)
0 Komentar

Di antara penonton, hadir Bupati Sumedang, Dony Ahmad Munir. Ia duduk menyatu dengan warga, menikmati pertunjukan tanpa jarak berlebihan. Seusai pertunjukan, ia menyampaikan apresiasinya.

“Apresiasi untuk pengelola Geoteater Rancakalong yang terus konsisten menyelenggarakan ekosistem budaya Sumedang, yang saat ini disesuaikan dengan momentum bulan puasa,” ujarnya.

Bagi Dony, Ramadan bukan hanya tentang ritual personal, tetapi juga momentum sosial dan kultural. Ia mengajak masyarakat mengisi ngabuburit dengan kegiatan yang lebih bermakna.

Baca Juga:Seni Bertahan Hidup Hemat di Jatinangor: Strategi Cerdas Biar Dompet Nggak Menjerit

“Ngabuburit harus lebih bermanfaat dan berdampak. Ekosistem budaya Kasumedangan tiap hari Sabtu terus menampilkan potensi kreatif yang ada di Sumedang. Seniman dan budayawan harus terus mengaktualisasikan potensi yang dimiliki,” katanya.

Ucapan itu seperti menegaskan satu hal: budaya bukan pelengkap, melainkan fondasi. Di Sumedang daerah yang dikenal dengan akar tradisi kuat, dari seni tarawangsa, kuda renggong, hingga upacara adat Ngalaksa ruang-ruang ekspresi seperti Geoteater menjadi titik temu generasi.

Anak-anak yang sore itu tertawa melihat Cepot, mungkin kelak akan menjadi dalang, penari, atau sekadar penonton yang mengerti arti warisan leluhur.

Ekosistem Budaya Kasumedangan sendiri dirancang bukan sebagai acara seremonial sesaat.

Ia tumbuh sebagai ruang berkelanjutan tempat komunitas, sanggar, dan pelaku seni saling bertukar energi. Pekan ke-15 bukan angka kecil. Artinya, konsistensi mulai membentuk tradisi baru. Setiap Sabtu, panggung itu menjadi saksi bagaimana kreativitas lokal menemukan rumahnya.

Ramadan memberi nuansa berbeda. Lampu-lampu sederhana dipasang lebih awal. Suara gamelan terdengar lebih lirih. Tawa penonton terasa lebih teduh.

Seolah semua orang sepakat bahwa menunggu berbuka bisa dilakukan dengan cara yang lebih beradab dengan merawat identitas sendiri.

Ketika langit berubah ungu tua dan udara mulai sejuk, Cepot menyampaikan pesan penutupnya tentang pentingnya menjaga silaturahmi, menghormati tradisi, dan menjadikan puasa sebagai jalan memperhalus budi. Tepuk tangan pun mengalir.

Baca Juga:

Tak lama kemudian, bedug terdengar dari kejauhan. Anak-anak berdiri tergesa, ibu-ibu mengemas tikar, para bapak tersenyum puas. Mereka pulang membawa dua hal sekaligus: perut yang siap berbuka dan hati yang baru saja disentuh budaya.

0 Komentar