Puasa Bukan Alasan Tidak Olahraga

Puasa Bukan Alasan Tidak Olahraga
Ilustrasi - Ada banyak cabang olahraga di Indonesia yang dapat memberikan manfaat bagi tubuh. Mulai dari olahraga yang praktis dilakukan di rumah, hingga yang membutuhkan ketangkasan untuk melakukannya.(alfagift)
0 Komentar

JATINANGOR EKPES – Bulan Ramadan kerap dijadikan alasan untuk menghentikan rutinitas olahraga.

Kekhawatiran akan rasa lemas, dehidrasi, hingga pingsan membuat sebagian orang memilih beristirahat total selama berpuasa. Padahal, menjaga tubuh tetap aktif justru penting agar metabolisme stabil, otot tidak kaku, serta kebugaran jantung tetap terjaga.

Kuncinya bukan pada latihan berintensitas tinggi, melainkan pada kemampuan beradaptasi: memilih waktu yang tepat, jenis olahraga yang sesuai, serta menjaga asupan cairan dan nutrisi secara seimbang.

Baca Juga:Kiat Orang Tua Dampingi Anak TarawihMenunggu Azan Bersama Cepot, Ketika Budaya dan Ramadan Saling Menguatkan di Geoteater Rancakalong

Secara medis, olahraga saat puasa tetap dianjurkan karena membantu menjaga massa otot, mengontrol kadar gula darah, serta mendukung kesehatan kardiovaskular. Namun, strategi pelaksanaannya perlu disesuaikan dengan kondisi tubuh yang sedang beradaptasi tanpa asupan makanan dan minuman selama belasan jam. Waktu menjadi faktor paling krusial. Ada tiga pilihan waktu yang relatif aman:

Pertama, 30–60 menit sebelum berbuka. Ini waktu yang paling populer. Intensitas harus ringan karena cadangan energi berada di titik terendah. Keuntungannya, setelah berolahraga, tubuh bisa segera mendapatkan cairan dan nutrisi saat azan Magrib tiba.

Kedua, setelah berbuka puasa. Waktu ini dianggap paling ideal untuk latihan dengan intensitas sedang. Tubuh sudah memperoleh asupan energi. Namun, beri jeda sekitar 1–2 jam setelah makan agar pencernaan tidak terganggu.

Ketiga, setelah sahur. Sebagian orang memilih waktu ini karena energi masih tersedia. Namun, risiko rasa haus lebih cepat muncul di siang hari akibat cairan tubuh yang terpakai saat berkeringat.

Saat berpuasa, tubuh beralih menggunakan cadangan lemak sebagai sumber energi karena simpanan glikogen menurun. Karena itu, latihan intensitas rendah hingga sedang lebih disarankan.

Aktivitas seperti jalan cepat, bersepeda santai, yoga, peregangan, atau senam aerobik ringan menjadi pilihan aman. Latihan berat seperti High-Intensity Interval Training (HIIT) atau angkat beban maksimal sebaiknya dihindari, terutama jika dilakukan sebelum berbuka.

Tujuan olahraga selama Ramadan bukan mencetak rekor pribadi, melainkan menjaga kondisi (maintenance) agar tubuh tetap prima hingga akhir bulan.

Baca Juga:

Risiko terbesar olahraga saat puasa adalah dehidrasi. Kebutuhan cairan minimal dua liter atau delapan gelas per hari harus dipenuhi di antara waktu berbuka hingga sahur.

0 Komentar