Ramadan Jadi Momentum Perubahan

Ramadan Jadi Momentum Perubahan
TAUSIYAH: Bupati Dony Ahmad Munir menyampaikan kuliah Subuh ba\'da Salat Subuh di Masjid Agung Sumedang. Jajaran Pejabat Pemda Sumedang dan warga masyarakat yang mendengarkan kuliah Subuh di Masjid Agung Sumedang. Bupati menyampaikan, bulan Ramadan merupakan bulan yang istimewa, bulan yang penuh rahmat Allah dan kasih sayang dan bulan yang dikasih kesempatan untuk memperbaiki diri.(Dok. Humas Pemkab)
0 Komentar

JATINANGOR EKSPRES- Hari pertama Ramadan dimanfaatkan sebagai ruang refleksi spiritual bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Sumedang. Bertempat di Masjid Al Kamil, Pusat Pemerintahan Sumedang (PPS), baru-baru ini.

Bupati Dony Ahmad Munir memberikan tausiyah yang menekankan pentingnya menjadikan bulan suci sebagai titik balik peningkatan kualitas diri dan pengabdian.

Di hadapan para ASN, Dony menegaskan bahwa Ramadan tidak boleh dijalani sekadar rutinitas tahunan. Menurutnya, bulan suci adalah “sekolah kehidupan” yang melatih kedisiplinan, kepedulian sosial, serta kedekatan spiritual kepada Allah SWT.

Baca Juga:Puasa Bukan Alasan Tidak Olahraga

“Ramadan harus menjadi momentum perubahan. Ini tempat kita dilatih menjadi pribadi yang lebih disiplin, peduli sesama, dan semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT,” ujarnya.

Ia mengingatkan, kesempatan bertemu Ramadan merupakan anugerah yang tidak semua orang dapatkan. Karena itu, setiap detik di bulan suci harus dimanfaatkan dengan kesungguhan.

“Banyak orang yang telah meninggal berharap bisa kembali meski satu detik untuk meraih rahmat dan ampunan. Jangan sampai satu bulan ini berlalu tanpa makna,” katanya.

Menurut Dony, puasa bukan hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga proses pembentukan karakter. Melalui ibadah ini, umat Muslim dididik mengendalikan diri, menumbuhkan empati, memperkuat kasih sayang, serta meningkatkan rasa syukur.

Ia merujuk pada tujuan puasa sebagaimana tercantum dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 183, yakni membentuk pribadi yang bertakwa. Untuk mencapainya, ia menggarisbawahi tiga langkah penting.

Pertama, meluruskan niat semata-mata karena Allah SWT agar setiap ibadah dijalani dengan ringan dan ikhlas. Kedua, menjalani Ramadan seolah menjadi kesempatan terakhir sehingga setiap amalan dilakukan dengan kesungguhan penuh. Ketiga, memaknai setiap ibadah yang dijalankan.

“Puasa adalah latihan kesabaran dan kedisiplinan. Salat tarawih menjadi dialog spiritual dengan Sang Pencipta. Tadarus Al-Qur’an adalah sarana memahami petunjuk hidup,” tuturnya.

Baca Juga:

Melalui momentum Ramadan, Dony berharap ASN tidak hanya meningkat secara spiritual, tetapi juga membawa nilai-nilai ketakwaan ke dalam etos kerja dan pelayanan publik. Baginya, integritas dan profesionalitas aparatur berawal dari kekuatan iman yang terjaga.(rls)

0 Komentar