Apa Makna Cap Go Meh dan Seperti Apa Perayaannya di Indonesia?

Perayaan Cap Go Meh dan akulturasi di Indonesia. (Amazing Borneo)
Perayaan Cap Go Meh dan akulturasi di Indonesia. (Amazing Borneo)
0 Komentar

JATINANGOR EKSPRES – Cap Go Meh merupakan perayaan penting untuk mengakhiri tahun baru Imlek pada malam ke-15 kalender lunar. Hal ini bertujuan sebagai simbolis rasa syukur dan mengusir sial. Biasanya ditandai dengan bulan purnama pertama di sekitar bulan Januari-Februari. Tradisi utama dari perayaan ini ditandai dengan simbolis lampion bercahaya, barongsai dan rebana, serta penyajian kuliner seperti tangyuan.

Asal-usul Nama

Kata Cap Go Meh sendiri berarti malam ke-15 berasal dari dialek Hokkien. “Cap” berarti sepuluh, “go” berarti lima, dan “meh” berarti malam. Perayaan ini jatuh pada tanggal 15 bulan pertama kalender Lunar. Melambangkan pencerahan dan keseimbangan antara langit, bumi, dan manusia. Sedangkan dalam bahasa Mandarin, perayaan ini dikenal sebagai Yuanxiao Jie atau Festival Lampion, melambangkan cahaya sebagai simbol syukur.

Secara filosofis, Cap Go Meh menggambarkan siklus kehidupan yang terus berputar, dimana perayaan ini bukanlah pengahbiskan melainkan awal yang baru dengan penuh harapan.perayaan ini mengajarkan nilai kebersamaan keluarga, introspeksi diri, dan pelepasan energi negatif untuk menyambut kemakmuran. Perayaan ini meliputi mendekor sekitar dengan lampion bercahaya sebagai simbol pencerahan hati dan menyajikan hidangan tangyuan (bola ketan) yang melambangkan keutuhan dan harmoni rumah tangga. Perayaan ini juga menjadi momen rasa syukur kepada leluhur dan dewa, dan menandakan kembalinya rutinitas normal dengan semangat yang teguh.

Baca Juga:Persiapkan Dari Sekarang, Rutinitas Skincare yang Perlu Diterapkan Sebelum Idul FitriAgar Tidak Salah Beli, Kenali Jenis Masker Wajah Sesuai Kebutuhan Masing-masing

Sejarah Cap Go Meh

Cap Go Meh merupakan tradisi yang bermula pada Dinasti Han (206 SM-220M) sebagai ritual pemujaan Dewat TaiYi untuk memohon kesejahteraan. Kemudian ritual ini berkembang menjadi festival rakyat dengan pawai lampion dan seni pertunjukkan pada Dinasti Tang. Mengutip dari lamanBudayaIndonesia, budaya ini dibawa imigran Tionghoa ke Nusantara pada abad ke -15, yang kemudian berakulturasi dengan budaya lokal seperti grebeg Sudiro di Solo atau tatung si Singkawang.

Tradisi Utama

Masyarakat Tionghoa pada perayaan ini melakukan sembahyang di klenteng atau di rumah untuk memanjatkan rasa syukur dan memohon doa perlindungan.adapun perayaan barongsai, liong serta ribuan lampion yang menghiasi kota sebagai simbol keberuntungan seperti ikan (simbol kelimpahan) dan fu dalam hanzi (simbol kebahagiaan), serta simbol mengusir roh jahat. Adapun penyajian makanan seperti ronde (tangyuan) sebagai simbol kebulatan tekad.

0 Komentar