JATINANGOR EKPRES – Kenaikan harga daging sapi menjelang Ramadan tahun ini dikeluhkan para pedagang karena dinilai lebih berat dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Lonjakan harga bahkan disebut sudah terjadi jauh sebelum memasuki bulan suci, sehingga berdampak langsung terhadap daya beli masyarakat.
Salah seorang pedagang, Haji Ai Erni, mengungkapkan bahwa harga daging mulai merangkak naik sejak Oktober lalu. Menurutnya, kondisi tersebut diperparah dengan adanya pembatasan kuota pasokan dari pusat, baik untuk daging lokal maupun impor.
Baca Juga:Taman Endog Sumedang Dikeluhkan, Fasilitas dan Kebersihan Jadi Sorotan Warga5 Menu Sahur Simpel dan Sehat Bikin Lancar Puasa
“Sekarang dijatah, dikuota. Dari Jawa maupun luar negeri sama saja, mau impor atau lokal tetap dibatasi,” ujarnya kepada Sumedang Ekspres, Rabu (4/3).
Ia menambahkan, kenaikan harga tahun ini tergolong drastis, mencapai Rp10.000 per kilogram, berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang umumnya hanya naik sekitar Rp2.000 hingga Rp5.000.
Keluhan serupa disampaikan pedagang lainnya, Ibu Haji Ebah. Ia menyebut harga daging yang sebelumnya berada di kisaran Rp140.000 per kilogram kini telah menembus Rp150.000. Meski pembeli masih ada, jumlahnya cenderung menurun.
“Ada saja yang beli, tapi berkurang. Kasihan yang tidak punya, ingin makan daging tapi tidak kebeli karena mahal,” tuturnya.
Bahkan di sejumlah daerah lain seperti Ciwidey, harga daging dilaporkan mencapai Rp170.000 hingga Rp180.000 per kilogram. Perbedaan harga antarwilayah tersebut semakin menambah beban pedagang dan konsumen.
Para pedagang mengaku tidak dapat memberikan potongan harga karena tingginya modal yang harus mereka keluarkan.
Mereka berharap pemerintah dapat mengambil langkah konkret untuk menstabilkan harga, sehingga masyarakat tetap mampu membeli salah satu komoditas pangan utama tersebut. (ahd)
