JATINANGOR EKSPRES – Kehidupan ini ibarat mesin yang tak pernah berhenti berputar.
Duabelas bulan dalam setahun, kehidupan seolah memaksa kita untuk terus berlari tanpa henti, mengejar berbagai target kehidupan, dan di tuntut menyesuaikan diri dengan standar yang terus berubah seiring waktu.
Hidup kita seolah diatur menjadi aktor dalam sebuah panggung drama yang begitu melelahkan, energi kita benar-benar di kuras habis hanya untuk menjaga “peran” tersebut agar tetap terlihat sempurna di mata orang-orang.
Baca Juga:Gak Cuma Ditumis! Ini dia 8 Kreasi Olahan Sawi yang Unik dan MenggodaHati-Hati! Otak Terasa ‘Nge-Lag’? Ini 9 Tanda Seseorang Mengalami Brainrot
Kita terjebak dalam hiruk-pikuk ekspektasi, entah itu tuntutan karir, sekolah, standar keluarga, juga harapan validasi khalayak umum memalui media sosial yang tak pernah memberikan kita jeda sedikitpun.
Dalam semua kebisingan ini, kita bisa merubah Ramadan menjadi tempat untuk rehat sejenak, bukan untuk hidup malas, melainkan beristirahat atas izin tuhan. Ini merupakan bentuk pulang yang paling aman setelah berkelahi dengan kekacauan duniawi yang bahkan kita tak tahu kapan selesainya.
Bulan Ramadan seolah memberikan kita ruang aman untuk pulang dan menutup diri dari segala kekacauan itu, pulang ke rumah yang tepat, pulang ke diri sendiri yang jelas lebih mengerti.
Puasa itu bukan sekadar menahan lapar dan haus. Puasa itu momen “detoks” total terhadap ekspektasi berlebihan apalagi ekspektasi orang lain.
Saat dimana kita mengosongkan perut seharian, saat itu juga kita di tarik untuk mengosongkan jiwa dari hal-hal tak sehat, apalagi pikiran untuk selalu mendapatkan validasi orang-orang.
Bukan sebuah keanehan jika seseorang merasa sangat sempurna dan berharga saat mendapatkan pujian, juga merasa gagal total saat tak berhasil memenuhi hasrat orang terhadap kita. Maka, dengan Ramadan kita bis memutus rantai melelahkan tersebut.
Dengan Ramadan, kita diajarkan untuk menjadi manusia spesial tanpa banyak berkoar. Kita tak harus mengklarifikasi apapun pada siapapun, karena kita telah membangun benteng pembatas dengan dunia toxic.
Baca Juga:Sedekah Tak Selalu Tentang Harta, Kebaikan Kecil Juga Bernilai Besar5 Cara Mudah Memilih Baju untuk Hijabers
Saat inilah kita bisa melepaskan semua beban yang selama ini dipikul sendirian, bukan untuk orang lain, melainkan untuk diri sendiri. Kita mulai belajar menjadi kuat dan tangguh tanpa bergantung pada siapapun, namun tetap menerima kehadiran mereka tanpa perbedaan.
