Setelah kita menutup akses untuk semua gangguan itu masuk, saat itu juga kita mulai bisa mendengarkan bisikan-bisikan lembut batin kita yang selama ini terabaikan karena kita lebih sibuk dengan komentar orang di luar sana.
Saat dimana kita mulai sahur dan bersujud setelah beribadah, saat itulah ketenangan mulai menyelimuti jiwa, hal yang selama ini kita butuhkan namun tak kita sadari. Jiwa tak pernah berteriak, juga tak pernah memaksa, tapi mereka selalu berbisik secara jujur mengisi kekosongan dalam diri.
Dalam ruang aman kita di bulan Ramadan, data diri kita seakan diolah kembali menjadi lebih bersih dan lebih berkelas.
Baca Juga:Gak Cuma Ditumis! Ini dia 8 Kreasi Olahan Sawi yang Unik dan MenggodaHati-Hati! Otak Terasa ‘Nge-Lag’? Ini 9 Tanda Seseorang Mengalami Brainrot
Kita mulai bisa membedakan, mana keinginan dan mana kebutuhan supaya tak terpengaruh oleh komentar orang-orang yang bahkan tak benar-benar tahu tentang diri kita.
Hal ini memang terkesan tegas dan juga sedikit kejam, namun dengan inilah kita bisa lebih mengenal diri sendiri tanpa menyakiti siapapun dan tanpa mengorbankan perasaan kita yang lebih santai, hangat, dan jujur.
Pulang tak harus selalu masuk ke bangunan, tapi juga berani memvalidasi perasaan diri sendiri. Pulang pada diri sendiri dengan menerima setiap kekurangan dan keterbatasan kita, menerima bahwa kita hanyalah mahluk lemah yang juga butuh perlindungan.
Tapi, bukan berarti kita tak berhak membanggakan diri, karena nyatanya kita selalu memiliki tuhan yang teramat sayang tanpa pamrih pada setiap umatnya. Di Ramadan kita seolah ditarik kembali pada orbit yang seharusnya agar tidak hancur karena bertabrakan dengan planet lain.
Dengan kembali ke titik awal, kita di ajak untuk memulainya dengan lebih tenang dan lebih baik, dengan versi terbaik dai diri sendiri.
Ketenangan Ramadan bukan termasuk kesepian melainkan cara terbaik berkomunikasi dengan sang pemilik raga, yaitu jiwa. Kita akan benar-benar menemukan bentuk nyata dari diri kita sendiri tanpa harus bertanya “aku siapa?” Semua jawabannya akan kita dapatkan dalam ketenangan itu.
Pulang selama tiga puluh hari menjadi persiapan nyata untuk menghadapi kegilaan di bulan-bulan selanjutnya yang akan mendatangi kita tanpa bertanya siap atau tidak. Pada akhirnya kita belajar bahwa rumah terbaik adalah diri kita sendiri yang sudah dengan baik berdamai dengan keadaan dan juga Tuhannya.
