SEJARAH Menara Loji Jatinangor: Saksi Bisu Kejayaan Perkebunan Karet di Tanah Sunda

SEJARAH Menara Loji Jatinangor: Saksi Bisu Kejayaan Perkebunan Karet di Tanah Sunda
SEJARAH Menara Loji Jatinangor: Saksi Bisu Kejayaan Perkebunan Karet di Tanah Sunda (google maps)
0 Komentar

JATINANGOR EKSPRES – Siapa yang tidak mengenal Menara Loji? Landmark ikonik ini merupakan salah satu peninggalan sejarah kolonial Belanda terpenting di Jatinangor, Sumedang.

Dibangun sekitar tahun 1800-an, menara ini awalnya berfungsi sebagai penanda waktu bagi para pekerja di perkebunan karet milik perusahaan Jerman-Belanda.

Artikel ini akan mengupas tuntas sejarah, fungsi asli, hingga kondisi terkini dari menara yang menjadi saksi transformasi Jatinangor dari lahan perkebunan menjadi pusat pendidikan.

Baca Juga:Deretan Toko Kue Paling Diminati Warga Jatinangor, Dari Kue Tradisional hingga Kue KekinianUpgrade Penampilan! Rekomendasi Gym Jatinangor yang Fasilitasnya Paling Lengkap

Menara Loji dibangun sekitar tahun 1800-an (beberapa catatan menyebutkan tahun 1841) oleh perusahaan perkebunan milik tuan tanah asal Jerman, Baron Baud.

Dahulu, kawasan Jatinangor adalah perkebunan karet dan teh yang sangat luas dengan nama Maatschappij tot Exploitatie der Jatinangor-landen. Menara ini merupakan bagian dari kompleks rumah tinggal atau kantor administrasi perkebunan yang disebut “Loji”.

Menara Loji adalah menara lonceng dengan gaya Arsitektur Kebangkitan Gothik yang terletak di Jatinangor, Sumedang. Dibangun pada tahun 1800-an oleh Baron Braud, tuan tanah yang memiliki perkebunan karet seluas kurang lebih 962 hektare.

Sejak kawasan perkebunan karet berubah menjadi kawasan perguruan tinggi, menara loji ini dirawat oleh Universitas Winaya Mukti (Unwim). Setelah kepemilikan tanah beralih, menara loji tersebut berada di bawah tanggung jawab Institut Teknologi Bandung (ITB). Kawasan itu pun diubah oleh pihak ITB dan dibangun Taman Loji.

Menara ini memiliki dua fungsi, yaitu sebagai tempat untuk mengawasi para penyadap karet yang sedang bekerja dan juga sebagai penanda waktu bagi para penyadap karet tersebut.

Lonceng yang ada di menara tersebut selalu dibunyikan setiap pukul 05.00 sebagai tanda bagi pekerja untuk memulai pekerjaannya. Kemudian dibunyikan kembali pukul 10.00 sebagai penanda bagi pekerja untuk mengambil mangkuk yang telah terisi oleh getah karet.

Terakhir, lonceng tersebut akan dibunyikan kembali pada pukul 14.00 sebagai tanda bagi pekerja untuk pulang.

Baca Juga:Kafe dengan Rating Terbaik dan Ulasan Paling Positif di Jatinangor, Layak Dikunjungi Setiap SaatTampil Stylish di Kampus, Inilah Deretan Tempat Nail Art Dengan Harga Terjangkau di Jatinangor

Salah satu yang unik dan menjadi daya tarik dari bangunan menjulang tinggi tersebut adalah desainnya yang kuno namun tetap unik. Dengan corak gothic ala abad pertengahan Eropa membuat siapa pun yang mengunjunginya merasakan suasana masa lalu yang estetik.

0 Komentar