Jejak Roda Kereta di Atas Jatinangor: Menelusuri Sejarah Jembatan Cincin

Jejak Roda Kereta di Atas Jatinangor: Menelusuri Sejarah Jembatan Cincin
ILUSTRASI: Jembatan Cincin Jatinangor (X/rasjawa)
0 Komentar

JATINANGOR EKSPRES – Bagi ribuan mahasiswa yang setiap harinya berkutat dengan diktat kuliah di Jatinangor, pemandangan struktur beton melengkung yang menjulang tinggi tentu bukan hal asing.

Jembatan Cincin, begitu masyarakat menyebutnya, berdiri tegak seolah menjadi gerbang waktu yang memisahkan modernitas dunia kampus dengan sisa-sisa kejayaan masa lalu.

Namun, di balik dindingnya yang mulai berlumut dan kokohnya arsitektur tanpa besi tulangan tersebut, tersimpan narasi besar tentang jalur distribusi hasil bumi di zaman kolonial.

Baca Juga:Menyulap Stres Jadi Duit: Ide Bisnis Self-Healing untuk Mahasiswa Tingkat AkhirMengenal Kawasan Populer di Jatinangor dan Tempat Wisata Sekitarnya

Lebih dari sekadar penghubung jalan, jembatan ini adalah saksi bisu transformasi Jatinangor dari perkebunan karet yang sunyi menjadi pusat intelektual yang tak pernah tidur.

Jembatan Cincin menjadi salah satu bangunan ikonik di Kabupaten Sumedang. Jembatan yang dibangun pada masa Hindia-Belanda tersebut masih berdiri kokoh hingga kini.

Struktur megah ini sebenarnya merupakan jembatan kereta api peninggalan masa kolonial Belanda yang dibangun oleh perusahaan kereta api negara, Staatsspoorwegen, sekitar tahun 1918.

Pembangunannya pada masa itu memiliki tujuan yang sangat praktis dan ekonomis, yaitu sebagai jalur transportasi utama untuk mengangkut hasil perkebunan karet dan teh dari wilayah Jatinangor menuju rute kereta api utama yang menghubungkan Bandung dan Rancaekek.

Secara visual, jembatan ini memiliki karakter arsitektur yang sangat kuat dengan deretan lengkungan beton yang menyerupai cincin atau busur setengah lingkaran.

Desain geometris inilah yang kemudian membuatnya dikenal luas oleh masyarakat setempat dengan sebutan Jembatan Cincin. Struktur tersebut dirancang sedemikian rupa untuk menahan beban berat lokomotif uap pada zamannya sembari melintasi lembah yang cukup dalam di kawasan yang kini menjadi bagian dari area kampus Universitas Padjadjaran.

Meski saat ini rel di atasnya sudah lama tidak digunakan dan telah beralih fungsi menjadi jalan setapak bagi warga serta mahasiswa, kekokohan strukturnya tetap bertahan melawan waktu dan cuaca.

Baca Juga:Tips Survive dan Penyesuaian Gaya Hidup di Jatinangor ala Mahasiswa: Life Hack Anak JatinangorTak Sekadar Klaim, B ERL WOW Lightening Facial Serum Diklaim Bantu Kulit Tampak Lebih Cerah

Keberadaan Jembatan Cincin tidak hanya dipandang dari sisi teknis arsitektur semata, melainkan juga menyimpan lapisan cerita rakyat dan atmosfer nostalgis yang kental.

Seiring berjalannya waktu, Jembatan Cincin telah bertransformasi dari sekadar sarana logistik perkebunan menjadi simbol identitas wilayah Jatinangor.

0 Komentar