JATINANGOR EKSPRES – Jembatan Cincin di Cikuda, Jatinangor, Sumedang yang masih berdiri kokoh hingga saat ini, peninggalan masa penjajahan Belanda tahun 1917-1918.
Jembatan yang awalnya untuk jalur kereta api, kini Jembatan Cincin digunakan untuk penyebrangan umum bagi warga, pelajar, dan pengendara sepeda motor untuk melewati wilayah Cikuda.
Jembatan ini berbeda dengan Jembatan Cincin (Widang) di Tuban/Lamongan, melainkan jembatan bersejarah di Jatinangor yang sudah tidak aktif untuk kereta api tetapi sangat aktif untuk mobilitas masyarakat.
Baca Juga:Sehat Versi Digital: Bukan Dokter, Bukan Pelatih, Tapi Bantu Jaga KesehatanAksi Heroik Damkar Selamatkan Kakek dan Cucu dalam Kebakaran Laundry di Kota Bandung
di balik dindingnya yang berlumut dan kokonga arsitektur tanpa besi tulangan tersebut, menyimpan narasi besar tentang jalur distribusi hasil bumi pada zaman kolonial. Lebih dari sekedar penghubung jalan, jembatan yang menjadi saksi bisu tranformasi Jatinangor dari perkebunan karet yang sunyi menjadi pusat intelektual yang tidak pernah tidur.
Jembatan cincin menjadi salah satu bangunan ikonik di Kabupaten Sumedang. Secara visual, jembatan ini memiliki karakter arsitektur yang kuat dengan deretan lengkungan beton yang dilihat dari kejauhan menyerupai cincin atau busur setengah lingkaran.
Desain itulah yang kemudian dikenal luas oleh masyarakat setempat dengan sebutan Jembatan Cincin. Struktur tersebut dirancang untuk menahan beban berat lokomotif uap pasa masa zamannya sembari melintasi lembah yang cukup dalam. Kini menjadi bagian dari area kampus ternama di Jawa Barat Universitas Padjadjaran.
Jembatan rel kereta api tua ini memiliki panjang sekitar 40 meter, dengan ketinggian diperkirakan mencapai 20 meter. Memiliki 11 tiang dan 10 lengkungan yang ikonik disebut cincin.
Meski saat ini rel diatasnya yang sudah lama tak digunakan lalu beralih fungsi menjadi kalan setapak bagi warga serta mahasiswa, kekokohan struktur tetap bertahan melawan waktu dan cuaca. Telah bertranfortasi dari sarana logistik perkebunan menjadi identik wilayah Jatinangor.
Menjaga kondisi fisik jembatan ini berarti juga menjaga ingatan kolektif masyarakat mengenai perkembangan wilayah Jawa Barat, memastikan bahwa warisan arsitektur yang indah ini tetap dapat dinikmati oleh generasi mendatang yang menempuh ilmu di bawah bayang-bayang lengkungannya yang legendaris.
Jembatan Cincin sering dikaitkan dengan hal mistis karena sejarah kelam pembangunan era kolonial Belanda yang memperkerjakan penduduk pribumi dengan kerja rodi/paksa, merenggut banyak nyawa, serta terdapat adanya makam tua di sekitarnya.
