Ngabuburit di Sumedang: Berburu Jajanan Legendaris Sambil Nunggu Adzan

Ngabuburit di Sumedang: Berburu Jajanan Legendaris Sambil Nunggu Adzan
Ngabuburit di Sumedang: Berburu Jajanan Legendaris Sambil Nunggu Adzan (IST.CANVA)
0 Komentar

JATINANGOR EKSPRES – Menjelang bulan Ramadhan, suasana sore di Sumedang selalu berubah jadi lebih hidup. Jalanan yang biasanya tenang mulai dipenuhi orang-orang yang keluar rumah untuk ngabuburit. Ada yang sekadar jalan santai, ada juga yang sengaja keliling kota sambil mencari makanan buat berbuka. Momen ini selalu terasa spesial karena jadi bagian dari tradisi yang terus berulang setiap tahun.

Ngabuburit di Sumedang punya ciri khas tersendiri, yaitu berburu jajanan legendaris. Menjelang maghrib, pedagang mulai berjejer di berbagai sudut kota. Aroma gorengan dan makanan hangat langsung memenuhi udara, bikin siapa pun yang lewat auto lapar. Tahu Sumedang tentu jadi menu paling wajib. Rasanya yang gurih dengan tekstur renyah di luar dan lembut di dalam selalu berhasil jadi favorit, apalagi kalau dimakan selagi panas.

Selain tahu, banyak jajanan lain yang nggak kalah dicari, seperti cilok, batagor, kue tradisional, sampai minuman segar yang cocok buat melepas dahaga setelah seharian puasa. Banyak orang bahkan punya langganan tempat jajan sendiri yang selalu didatangi setiap Ramadhan. Hal kecil seperti ini sering jadi nostalgia, terutama buat para perantau yang akhirnya bisa merasakan lagi suasana kampung halaman.

Baca Juga:Mudik ke Sumedang: Perjalanan Pulang yang Selalu DinantiJangan Salah Paham! Ini Hal yang Dikira Bisa Membatalkan Puasa Tapi Ternyata Tidak

Area pusat kota biasanya jadi titik paling ramai saat ngabuburit. Orang-orang duduk santai, ngobrol bareng teman atau keluarga, sementara anak-anak bermain di sekitar. Suasananya terasa hangat dan akrab, jauh dari kesan terburu-buru seperti di kota besar. Justru kesederhanaan inilah yang membuat ngabuburit di Sumedang terasa berbeda.

Pada akhirnya, ngabuburit di Sumedang bukan hanya tentang menunggu waktu berbuka, tapi juga menikmati kebersamaan dan suasana yang penuh kenangan. Dari jajanan legendaris sampai obrolan santai di sore hari, semuanya jadi bagian kecil yang membuat Ramadhan terasa lebih bermakna. Karena di kota ini, kebahagiaan sering datang dari hal sederhana yang justru paling dirindukan.

Menjelang adzan maghrib, suasana biasanya berubah semakin ramai namun tetap terasa hangat. Banyak orang mulai membawa pulang makanan untuk keluarga di rumah, sementara yang lain memilih tetap tinggal menikmati suasana sampai waktu berbuka tiba. Senyum dan obrolan ringan terlihat di mana-mana, membuat sore terasa lebih hidup dibanding hari biasa.

0 Komentar