Jemput dan Olah Sampah Organik

Jemput dan Olah Sampah Organik
Petugas pemilahanan dan pengolah sampah (Gaslah)  menjemput sampah organik dari rumah ke rumah sebagai salah satu upaya pengelolaan sampah secara mandiri di Kampung Liogenteng. (Dok. Jabar Ekspres)
0 Komentar

JATINANGOR EKPRES – Program pengelolaan sampah berbasis kewilayahan yang digulirkan Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung dijalankan melalui petugas pemilahan dan pengolah sampah (Gaslah).

Pantauan Jabar Ekspres di Kampung Liogenteng, Kecamatan Astanaanyar, petugas menjemput sampah organik langsung dari rumah warga untuk kemudian dipilah dan diolah di tingkat kampung.

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya pengelolaan sampah mandiri sekaligus mendorong warga memilah sampah sejak dari sumbernya. Setiap hari, petugas berkeliling lingkungan untuk mengambil sampah organik, terutama sisa dapur seperti sayuran dan buah-buahan.

Baca Juga:Survey Indikator: 95 Persen Puas Kinerja KDMJagung Lokal Perkuat Ketahanan

Sampah tersebut tidak dicampur dengan residu atau anorganik karena jenis itu tidak termasuk yang diangkut oleh petugas Gaslah. Salah satu petugas, Ahmad Ramdani, menjelaskan fokus kegiatan itu.

“Intinya ini kegiatan gaslah, mengambil sampah. Lalu memilah dan mengolah agar sampai tidak terjadi kesalahpahaman warga masyarakat, terutama di wilayah ini. Tentang memilah sampah yang organik dan anorganik,” ucap Ahmad saat ditemui Jabar Ekspres di lokasi, baru-baru ini.

“Supaya bisa memilah sampah residu juga, karena sampah seperti itu bukan kita yang ambil. Sekarang lagi ambil sampah organik. Kebanyakan sampah sayuran sama buah-buahan atau sampah dapur,” sambungnya.

Setelah sampah dikumpulkan, lanjut Ahmad, proses tidak berhenti pada pengambilan. Petugas kembali memilah sampah untuk memastikan tidak ada plastik atau material lain yang terbawa.

Menurutnya, tahapan tersebut dilakukan sebagai bagian dari prosedur pengolahan yang mengikuti arahan pemerintah daerah. Sampah organik yang sudah dipastikan bersih kemudian dipisahkan berdasarkan karakteristiknya.

Ahmad mengatakan pemisahan dilakukan antara sampah lunak dan keras. “Hasil dari sini mungkin sesuai dari arahan pemerintah, ini nanti diolah lagi dipilah lagi. Takut ada sampah plastik terbawa,” katanya.

“Kalau sudah terpisah, kita pisahkan lagi yang lunak dan kasar. Nanti yang lunak bisa diberi untuk maggot, kalau kompos khusus sampah yang keras,” lanjut Ahmad.

Baca Juga:Pastikan Gaji PPPK TerpenuhiWarga Keluhkan Jalan Rusak Bekas Galian

Sampah organik lunak dimanfaatkan sebagai pakan maggot, sedangkan jenis yang lebih keras diolah menjadi kompos. Skema ini dirancang agar sampah yang terkumpul dapat dimanfaatkan seluruhnya dan tidak menambah beban tempat pembuangan akhir.

0 Komentar