JATINANGOR EKSPRES – Lingua franca merupakan bahasa penghubung yang digunakan oleh penutur bahasa asli yang berbeda agar komunikasi lebih efektif, yang secara tradisional dikenal sebagai bahasa perdagangan seperti campuran bahasa Italia-Prancis di pelabuhan Mediterania di abad pertengahan. Konsep ini kemudian berevolusi di era digital yang menjadi lebih dinamis dan iklusif.
Konsep Digital Lingua Franca
Pada era digital masa kini, lingua franca tidak hanya sekadar bahasa verbal dominan seperti bahasa Inggris yang digunakan 80% pada artikel ilmiah global, namun digital hybrid yang menggabukngkan bahasa, emoji, dan AI. Tren ini kemudian muncul sebagai bentuk nyata globalisasi di internet, salah satu contohnya adalah penggunaan emoji yang biasa kita temui di semua edia sosial. Lingua franca hadir dalam bentuk emoji dengan arti tersendiri seperti emoji menangis deras untuk tertawa atau emoji api sebagai bentuk pujian.
Evolusi Lingua Franca
- Mengutip dari EBSCO, lingua franca secara historis contohnya menggunakan bahasa Latin di Eropa pada abad pertengahan atau bahasa Arab di daerah Timur Tengah lahir dari perdagangan dan penaklukkan. Sedangkan di era sekarang, persepktif baru dikenal sebagai “ekosistem multimodal” seperti:AI-Driven: Sistem Chatbot seperti Grok atau Gemini menjadi penerjemah real-time, sehingga menciptakan lingua franca buatan yang beradaptasi berdasarkan masing-masing konteks.
- Blockchain & Metaverse: Pada platform Web3, smart contact menggunakan kode bahasa netral seperti solidity + visual NFT sebagai lingua franca untuk ekonomi digital.
- Fandom dari berbagai kalangan dan komunitas: Bahasa campur lokal-Inggris-bahasa lainnya dapat menguasai komunitas global dan mendorong soft power bahasa terkait.
Lingua Franca di Indonesia
Penerapan lingua franca di Indonesia menjadi vital di media sosial. Sebagai contoh, marketer digital produk perawatan diri menggabungkan bahasa Indonesia, Inggris, dan visualisasi untuk mempercantik copywiting, seperti memberi keterangan serum hyaluronic acid dengan emoji tear drop guna menjangkau audiens yang lebih luas. Contoh lain penerapan lingua franca ini biasanya dicampur dengan slang lokal, contoh: “mantul” merupakan akronim dari “mantap betul” dan ditambah emoji ibu jari ke atas. Mengutip laman Language Easy, hal ini memperkaya komunikasi lintas budayha dan mengurangi keterbatasan bahasa hingga 40% di media sosial. Menjadikan lingua franca tidak hanya hegemoni satu bahasa, tapi juga polyglossia, yaitu kemampuan berpindah kode secara instan lewat AI, mencegah erosi bahasa daerah.
