JATINANGOR EKSPRES – Ngajarin anak puasa itu bukan soal buru-buru kuat seharian, tapi soal pelan-pelan ngenalin maknanya. Banyak orang tua yang ingin anaknya cepat bisa puasa penuh, tapi sering lupa kalau prosesnya sama penting dengan hasilnya. Di usia dini, yang paling dibutuhkan anak sebenarnya bukan tuntutan, melainkan pendampingan.
Ramadan bisa jadi momen pertama anak belajar tentang sabar, menahan diri, dan peduli terhadap orang lain. Dari bangun sahur yang masih setengah ngantuk, nahan haus di siang hari, sampai nunggu adzan magrib dengan penuh harapan. Semua itu adalah pengalaman berharga, kalau dikenalkan dengan cara yang tepat, puasa bukan cuma jadi kewajiban, tapi kenangan manis yang akan mereka ingat sampai besar nanti.
Berikut cara mendidik anak berpuasa sejak dini
1. Berikan pemahaman yang tepat
Sebelum mengajak anak berpuasa, orang tua perlu memberikan penjelasan sederhana tentang apa itu puasa dan kenapa umat Islam melakukannya. Jelaskan bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus, tetapi juga belajar sabar, jujur, dan berbagi dengan orang lain.
Baca Juga:Tradisi Unik di Sumedang, Berkeliling Menyusuri Jalan dengan Iringan Musik Kuda Ronggeng Sebagai "Alarm Sahur"Kebakaran Hebat di Raya Cimareme, Tiga Bangunan Hangus Sekaligus
Orang tua bisa mengaitkannya dengan keseharian anak, misalnya dengan mengatakan bahwa saat puasa, kita belajar merasakan bagaimana rasanya orang yang kekurangan makanan atau bisa lewat kisah sederhana tentang berbagi, atau pengalaman orang tua waktu kecil pertama kali belajar puasa.
2. Bertahap dan Sesuai Usia
Setiap anak punya kesiapan yang beda-beda. Ada yang umur 5 tahun udah semangat ikut sahur, ada juga yang masih berat bangun pagi. Itu wajar banget, jadi jangan disamakan atau dibanding-bandingkan.
Mulai aja dari hal kecil. Misalnya, ajak mereka sahur walau belum wajib puasa. Biar mereka ngerasain suasana Ramadan dari dekat. Kalau sudah mulai kuat, baru pelan-pelan dikenalkan puasa beberapa jam.
Lihat kondisi fisik dan emosinya. Jangan sampai niat ngajarin ibadah malah bikin anak tertekan atau kapok. Kalau terlihat terlalu lemas atau rewel karena tidak kuat, lebih baik beri kesempatan untuk berbuka lebih awal.
Proses belajar ini bukan soal cepat-cepatan, tapi soal membangun kebiasaan dan rasa cinta pada ibadah itu sendiri.
