3. Puasa Setengah Hari
Anak bisa mulai puasa sampai jam 10 pagi, lalu naik ke jam 12 siang, dan seterusnya. Dengan cara ini, anak merasa punya target yang jelas. Mereka belajar menahan diri, tapi tetap sesuai kemampuan.
Supaya lebih semangat, orang tua bisa membuat semacam “kalender puasa” kecil di rumah. Setiap berhasil menahan sampai target waktu tertentu, anak bisa memberi tanda atau stiker. Cara sederhana ini bikin mereka ngerasa punya pencapaian yang nyata dan membuat prosesnya terasa seperti tantangan seru.
4. Siapkan makanan favorit pada sahur dan buka
Momen sahur dan buka bisa jadi penyemangat besar buat anak. Nggak harus mewah, tapi usahakan ada menu yang mereka suka. Misalnya, telur kesukaan mereka, sup hangat, atau minuman manis favorit saat buka. Anak jadi merasa puasanya “ditemani” hal yang menyenangkan.
Baca Juga:Tradisi Unik di Sumedang, Berkeliling Menyusuri Jalan dengan Iringan Musik Kuda Ronggeng Sebagai "Alarm Sahur"Kebakaran Hebat di Raya Cimareme, Tiga Bangunan Hangus Sekaligus
Selain itu, ajak anak ikut menyiapkan makanan sederhana. Misalnya membantu menata meja atau memilih menu berbuka. Keterlibatan kecil seperti ini bisa membuat mereka merasa dihargai dan lebih bertanggung jawab terhadap puasanya sendiri.
5. Buat Puasa Terasa Menyenangkan
Puasa bukan hukuman, jadi jangan dibikin tegang. Bisa ajak anak menghias rumah dengan dekorasi Ramadan, membuat jadwal ibadah sederhana, atau ikut berbagi takjil.
Suasana yang hangat dan menyenangkan bikin anak punya kenangan baik tentang Ramadan. Kalau pengalaman pertamanya seru, biasanya tahun berikutnya mereka lebih semangat.
Orang tua juga bisa membuat kegiatan kecil seperti membaca cerita sebelum berbuka yang penting suasananya santai dan penuh dukungan, bukan tekanan.
6. Berikan Penghargaan Jika Berhasil Berpuasa
Anak suka dihargai, penghargaan nggak harus mahal. Bisa berupa pujian tulus, pelukan, atau hadiah kecil setelah berhasil puasa penuh beberapa hari.
Tapi ingat juga, ajarkan bahwa puasa tetap ibadah karena Allah, bukan semata-mata karena hadiah. Jadi seimbang antara motivasi dan pemahaman.
Ketika anak mulai merasa puas dengan usahanya sendiri, di situlah nilai puasa benar-benar mulai tertanam.
