JATINANGOR EKSPRES, PERISTIWA – Nasi telah menjadi bubur. Nyatanya kemalangan tak pernah ada notif di kalender. Niat hati pulang untuk silaturahmi, malah mati ditangan ibu tiri. Sungguh miris nasib seorang anak di Sukabumi ini.
Bocah berinisial NS yang masih berusia 12 tahun tersebut diduga baru pulang dari pondok pesantren saat masa libur menjelang puasa, korban saat itu sempat sakit ringan sepert batuk pilek biasa, namun mangkin hari kondisinya semakin memburuk lantaran dipaksa meminum air panas oleh pelaku yang merupakan ibu tirinya sendiri.
Ternyata, usut punya usut kejadian ini bukan pertama kalinya, sebelumnya korban juga sudah pernah mengalami penganiayaan dari ibu tirinya, bahkan sampai dilaporkan ke pihak berwajib oleh ayahnya. Namun, akhirnya kasus ini hanya berujung damai secara kekeluargaan saja.
Baca Juga:Tips Ramadhan Mood: Tetap Slay dan Produktif di Tengah Puasa Tanpa Kehilangan EnergiLebih Baik dari Seribu Malam, Ini Keutamaan, Ciri-ciri, dan Amalan di Malam Lailatul Qadar
Bukannya berubah, si pelaku malah menjadi dan berujung mengakibatkaan korban dibawa ke Rumah Sakit. Di beberapa video yang beredar, pelaku tak terlihat merasa bersalah sama sekali dan malah hendak melakukan kekerasan lain pada korban. Hal ini memberikan trauma mendalam bagi korban, kondisinya selama di RS sangat memprihatinkan, sampai akhirnya tuhan berkehendak dan NS dinyatakan meninggal dunia pada Kamis, 20 Februari 2026. Di RS Jampang Kulon.
Setelah semua laporan dan juga kerusuhan warganet, pelaku langsung diamankan pihak berwenang dan diintrogasi. Banyak yang ternganga dengan kenyataan yang keluar dari mulut pelaku, rupa-rupanya motif pelaku hanya karena merasa cemburu sebab sang suami, alias ayah kandung korban lebih sayang dan perhatian pada korban dibanding anak pelaku.
Setelah kejadian dan kepergian korban kepelukan sang maha kuasa, yang tersisa hanya duka dan beribu pertanyaan “kenapa?”. Terlebih bagi sang ibu kandung, beredar video yang memperlihatkan ibu korban yang hanya bisa terdiam dengan tatapan kosong. Ibu mana yang tangguh mendapati buah hatinya harus pergi dengan keadaan tragis di tangan orang yang seharusnya menjadi sosok pengganti.
Sedari awal, sang ibu memang sangat berharap anaknya bisa tetap bersamanya, namun apa boleh buat? hak asuh lebih memihak sang ayah. Sebuah pilihan tepat memasukkan korban ke ponpes, nyatanya cara ini yang membuat korban masih bertahan sampai di titik ini. Satu-satunya orang yang bisa korban jadikan tempat pulang hanyalah sang kakek.
