Di beberapa daerah, munggahan juga diisi sama doa bersama. Keluarga berkumpul buat memanjatkan doa agar diberikan kesehatan, kelancaran, dan kekuatan dalam menjalani ibadah puasa selama sebulan penuh. Tak jarang juga tradisi ini disertai dengan berziarah ke makam keluarga sebagai penghormatan kepada leluhur sekaligus pengingat akan hidup yang fana. Ziarah itu jadi refleksi diri biar Ramadhan dijalani dengan kesingguhan.
Seiring perkembangan zaman, bentuk munggahan ada sedikit perubahan. Jika dulu lebih banyak dilakuin secara sederhana di rumah, sekarang ada juga yang merayakan acara makan bareng di restoran, tempat wisata, ataupun ruang terbuka. Kalangan anak muda juga sering mengadakan munggahan bareng temen-temen atau komunitas sebelum Ramadhan tiba.
Walaupun suasananya lebih santai, tapi tetep nilai kebersamaan selalu jadi inti dari kegiatan itu. Tapi demikian, esensi munggahan gak pernah boleh hilang. Tradisi ini jadi bukti kalo budaya dan agama saling nguatin, bukan saling bertentangan.
Baca Juga:Tradisi Tahunan Pasca Lebaran, Halal Bihalal Selalu Punya Makna Tersendiri yang MendalamBingung Sore Ini Mau Ke Mana? Ini Spot Ngabuburit Paling Catchy di Bandung Biar Nggak Cuma Bengong di Kosan
Bagi masyarakat Sunda, munggahan adalah momen yang punya makna emosional. Ia menghadirkan rasa haru, syukur, dan kebahagiaan. Anak-anak belajar tentang pentingnya bersilaturahmi, orang dewasa belajar tentang memaafkan, dan para orang tua ngerasain kebanggaan saat melihat keluarganya kumpul bersama. Semua itu bercampur di suasana hangat yang tak bisa digantikan oleh apa pun.
Pada akhirnya, munggahan bukan cuma tradisi turun-temurun, tapi juga warisan nilai yang harus dijaga. Dari tradisi itu, mengajarkan bahwa jika kita menyambut Ramadhan, tak cukup dengan hanya persiapan fisik saja, tapi juga harus ada kesiapan hati. Dengan kebersamaan, saling memaafkan, dan doa yang dipanjatkan bersama, munggahan jadi langkah awal menuju Ramadhan yang lebih bermakna dan penuh berkah.
