Tradisi Unik di Sumedang, Berkeliling Menyusuri Jalan dengan Iringan Musik Kuda Ronggeng Sebagai "Alarm Sahur"

Tradisi Unik di Sumedang, Berkeliling Menyusuri Jalan dengan Iringan Musik Kuda Ronggeng Sebagai \"Alarm Sahur\"
Tradisi Unik di Sumedang, Berkeliling Menyusuri Jalan dengan Iringan Musik Kuda Ronggeng Sebagai \"Alarm Sahur\". (TANGKAPAN LAYAR)
0 Komentar

JATINANGOR EKSPRES – Ramadan di berbagai daerah selalu punya warna dan ceritanya sendiri. Selain identik dengan suasana religius, bulan suci ini juga sering banget diwarnai tradisi khas yang cuma bisa ditemui di wilayah tertentu. Salah satu tradisi yang hampir selalu ada setiap Ramadan adalah kegiatan warga berkeliling untuk membangunkan sahur.

Di Kabupaten Sumedang, tradisi ini punya sentuhan yang berbeda dan terasa lebih hidup. Warga nggak cuma keliling bangunin sahur, tapi juga mengiringinya dengan musik kuda ronggeng. Bukan sekadar meramaikan suasana dini hari, cara ini juga jadi bentuk nyata keterlibatan warga dalam menjaga, sekaligus menghidupkan budaya lokal khas Sumedang.

Bagi masyarakat setempat, pemandangan seperti ini tentu bukan hal asing. Menjelang waktu sahur, suara alat musik mulai terdengar, memecah sunyinya dini hari yang biasanya hening. Sekelompok warga, mulai dari anak muda hingga orang dewasa, berjalan menyusuri jalan-jalan kampung sambil memainkan alat musik tradisional. Irama yang khas, ritmis, dan energik itu seolah berubah jadi alarm alami bagi warga yang masih terlelap.

Baca Juga:Kebakaran Hebat di Raya Cimareme, Tiga Bangunan Hangus SekaligusMunggahan: Hangatnya Kebersamaan Menyambut Ramadhan dalam Tradisi Sunda

Menariknya, kegiatan ini bukan cuma soal bunyi-bunyian buat bikin orang melek. Ada rasa kebersamaan yang terasa kuat di dalamnya. Warga yang terbangun kadang menyempatkan diri keluar rumah, sekadar melihat rombongan lewat, saling menyapa, atau tersenyum kecil menikmati suasana. Hal sederhana, tapi vibes-nya hangat banget. Ramadan pun terasa lebih hidup, lebih ramai, dan lebih “kampung” dalam arti yang justru bikin kangen.

Di beberapa kampung, rombongan musik sahur ini bahkan sudah dinanti. Kehadirannya bukan dianggap gangguan, melainkan bagian dari suasana Ramadan itu sendiri. Anak-anak biasanya jadi pihak yang paling antusias. Jam yang harusnya masih tidur, tapi malah excited dengar suara musik dari kejauhan. Ada rasa senang yang susah dijelaskan, campuran antara kaget, penasaran, dan terhibur.

Lebih dari sekadar membangunkan sahur, tradisi ini juga punya makna sosial yang istimewa. Ada unsur gotong royong, interaksi antarwarga, hingga rasa kebersamaan yang tumbuh secara alami. Ramadan nggak jadi cuma terasa sebagai ibadah personal, tapi juga pengalaman kolektif yang mempererat hubungan sosial di lingkungan sekitar.

0 Komentar