Tradisi Unik di Sumedang, Berkeliling Menyusuri Jalan dengan Iringan Musik Kuda Ronggeng Sebagai "Alarm Sahur"

Tradisi Unik di Sumedang, Berkeliling Menyusuri Jalan dengan Iringan Musik Kuda Ronggeng Sebagai \"Alarm Sahur\"
Tradisi Unik di Sumedang, Berkeliling Menyusuri Jalan dengan Iringan Musik Kuda Ronggeng Sebagai \"Alarm Sahur\". (TANGKAPAN LAYAR)
0 Komentar

Menariknya lagi, tradisi ini tetap bertahan di tengah perubahan zaman. Di era ketika hampir semua orang punya alarm di smartphone, kehadiran rombongan musik sahur tetap punya tempat spesial. Ada nilai emosional dan nuansa budaya yang nggak bisa digantikan dengan teknologi. Suara musik yang menggema di jalanan kampung menghadirkan rasa hangat, hidup, dan terasa jauh lebih manusiawi.

Di sisi lain, tradisi ini juga jadi cara nggak langsung untuk merawat budaya lokal. Anak muda yang ikut berkeliling otomatis ikut terlibat dalam kesenian tradisional. Ramadan seolah jadi ruang hidup bagi budaya yang mungkin jarang muncul di hari biasa. Tanpa terasa, ada proses pelestarian yang terjadi secara natural dan menyenangkan.

Meski identik dengan keramaian, pelaksanaan tradisi ini umumnya tetap memperhatikan kenyamanan warga. Volume musik dijaga supaya tidak berlebihan sampai mengganggu warga, waktu berkeliling dipertimbangkan. Karena esensinya bukan bikin bising, tapi berbagi semangat untuk sahur.

Baca Juga:Kebakaran Hebat di Raya Cimareme, Tiga Bangunan Hangus SekaligusMunggahan: Hangatnya Kebersamaan Menyambut Ramadhan dalam Tradisi Sunda

Tradisi berkeliling membangunkan sahur dengan musik kuda ronggeng di Sumedang bukan cuma soal rutinitas biasa. Tapi tradisi ini sudah jadi bagian dari identitas suasana Ramadan itu sendiri. Ada nuansa lokal, ada rasa kebersamaan, dan ada memori kolektif yang terus hidup. Di tengah dunia yang makin digital dan individual, tradisi sederhana seperti ini justru terasa makin lebih meaningful.

0 Komentar