3. Asal Kata “Ramadan”
Asal kata tersebut berasal dari akar kata Arab “ramida” atau “ar-ramad” yang berarti panas yang sangat terik atau membakar. Makna ini bukan hanya menggambarkan kondisi cuaca di Jazirah Arab pada masa dahulu, tetapi juga dilambangkan dengan arti pembakaran dosa-dosa melalui ibadah dan taubat.
Ramadan adalah momen paling istimewa untuk membersihkan diri dan memperbaiki hubungan dengan Allah serta sesama manusia, yang dimana perlakuan baik sekecil apapun akan dilipat gandakan oleh-Nya.
4. Malam Lailatul Qadar Lebih Baik dari 1000 Bulan
Malam hari terakhir di Ramadan adalah adanya malam Lailatul Qadar yang diyakini terjadi pada sepuluh malam terakhir, khususnya pada malam-malam ganjil. Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa ibadah pada malam ini lebih baik dari 1000 bulan, atau setara dengan lebih dari 83 tahun.
Baca Juga:Tradisi atau Eksploitasi Bahaya? Pengemis Pasukan Sapu Lidi di Bahu Jalan Subang-Indramayu Tuai Kecaman!Pelajari Jejak Bersejarah di Bulan Ramadan, Inilah Tiga Peristiwa Besar yang Mengubah Dunia Islam
Maka dari itu, banyak umat Muslim meningkatkan ibadah di 10 hari terakhir yang istimewa ini seperti melakukan i’tikaf, membaca Al-Qur’an, dan berdoa di malam-malam terakhir Ramadan untuk meraih keberkahan malam tersebut.
5. Tradisi Ramadan Beragam di Setiap Negara
Tak hanya waktu berbuka yang berbeda di setiap negaranya, tradisi juga menjadi perbedaan yang beragam di setiap memasuki bulan suci Ramadan. Di Indonesia, masyarakat mengnal tradisi menunggu waktu magrib yang disebut “ngabuburit” dan berburu takjil menjelang berbuka. Di negara Timur Tengah, Ramadan dihiasi dengan lampu-lampu lentera yang disebut fanous
Sementara di Turki, ada tradisi penabuh drum yang berkelilinh membangunkan warga saat sahur, tradisi ini hampir sama dengan tradisi yang ada di Indonesia. Hal tersebut dilakukan untuk memperkaya nuansa Ramadan di berbagai belahan dunia.
6. Ibadah Puasa Sudah Ada Sebelum Islam
Puasa bukan hanya ibadah yang ada dalam Islam. Dalam sejarah, praktik menahan diri dari makan dan minum juga dilakukan dalam agama lain seperti Kristen dan Yahudi.
Tujuan serupa tersebut, untuk meningkatkan spiritualitas, mendekatkan diri kepada Tuhan, dan melatih pengendalian diri. Hal ini menunjukkan bahwa nilai puasa bersifat universal dalam berbagai tradisi keagamaan.
