Ramadan sering jadi cermin yang jujur. Hal-hal kecil yang biasanya dianggap biasa seperti ngomel, nyinyirin orang, atau gampang terpancing emosi sering jadi mendadak terasa lebih berat saat sedang berpuasa.
Menahan diri di sini bukan sekadar formalitas, tapi juga bagian dari latihan karakter.
4. Salat Malam dan Tarawih
Tarawih bisa dibilang jadi salah satu ikon Ramadan. Ada nuansa khas yang nggak ditemui di bulan lain. Masjid lebih ramai, suasana malam lebih hidup, dan ada rasa kebersamaan yang cukup terasa hangat.
Baca Juga:Berbagi Takjil di Bulan Ramadan: Siapa Saja yang Berhak Menerimanya?Aku, Kamu, dan Bandung, Jadi Saksi Nyata Usaha Dua Gadis Tunawicara Keterima Kerja di Matahari
Menariknya, tarawih bukan hanya soal ibadah ritual, tapi juga pengalaman sosial. Ada yang datang bareng teman, keluarga, atau beribadah sendiri dan menikmati suasana malam Ramadan yang berbeda dari biasanya.
Di luar tarawih, beribadah malam di masjid seperti i’tikaf juga sering jadi momen reflektif yang lebih tenang dan personal dengan Allah SWT.
5. Memperbanyak Doa
Ramadan sering dianggap sebagai bulan penuh kesempatan. Banyak orang memanfaatkan momen ini untuk lebih intens dalam berdoa, entah untuk hal besar, hal kecil, atau sekadar isi hati yang jarang diungkapkan.
Ada sesuatu tentang Ramadan yang bikin orang lebih mudah merasa dekat secara emosional. Waktu-waktu seperti menjelang berbuka bahkan sering disebut sebagai momen istimewa yang mujarab untuk berdoa.
Terlepas dari sudut pandang religius, ada sisi psikologis yang menarik, Ramadan sering bikin orang lebih reflektif dengan dirinya.
Amalan-amalan yang dianjurkan selama bulan Ramadan bukan sekadar daftar aktivitas keagamaan. Lebih mirip rangkaian kebiasaan yang membentuk suasana batin agar lebih baik. Ramadan juga tentang mengisi. Mengisi waktu, mengisi kebiasaan, dan mungkin juga mengisi hal-hal yang selama ini terasa kosong, hati yang merasa jauh dari sentuhan lembut Allah.
