JATINANGOR EKSPRES –
Ramadan selalu punya fase yang berbeda. Awal bulan biasanya penuh semangat, tengah bulan mulai beradaptasi, dan makin mendekati akhir justru muncul suasana yang agak unik. Ada rasa capek, ada rasa nggak kerasa waktu berjalan begitu cepat, tapi juga ada perasaan bahwa bulan ini sayang banget kalau dilewatkan begitu saja. Di titik inilah, i’tikaf sering mulai banyak dibicarakan.
Buat sebagian orang, istilah i’tikaf mungkin terdengar familiar, tapi nggak semua benar-benar paham atau pernah menjalaninya. Sederhananya, i’tikaf adalah berdiam diri di masjid dengan niat ibadah, seperti shalat, dzikir, tadarus, dan muhasabah serta mendekatkan diri kepada Allah SWT. Praktik ini biasanya lebih sering dilakukan di sepuluh malam terakhir Ramadan, fase yang diyakini menyimpan banyak keutamaan.
Kalau dilihat sekilas, i’tikaf mungkin tampak seperti aktivitas sederhana, hanya tinggal di masjid, ibadah, selesai. Tapi kalau dipikir lebih jauh, di saat keseharian penuh distraksi, notifikasi, timeline, deadline, dan rutinitas dunia yang nyaris nggak berhenti, i’tikaf menawarkan sesuatu yang jarang didapat, yaitu jeda untuk reconnect, membersihkan jiwa, dan mempererat hubungan spiritual dengan Allah SWT.
Baca Juga:Ngabuburit Lebih Asik Dengan Ditemani Tontonan Menarik!World Tour via Ramadhan: Intip Tradisi Unik dari Berbagai Negara yang Bikin Vibes-nya Makin Seru!
I’tikaf bukan cuma soal berada secara fisik di masjid. Lebih dari itu, ada semacam proses menarik diri dari hiruk-pikuk dunia luar. Rutinitas yang biasanya padat mendadak melambat. Interaksi sosial berkurang, kebisingan digital ikut berkurang, dan fokus diarahkan ke hal-hal yang lebih reflektif bagi diri.
I’tikaf sering menghadirkan suasana yang sulit dijelaskan. Masjid di malam hari punya atmosfer yang berbeda. Lebih hening, lebih teduh, dan terasa jauh dari keramaian biasa. Waktu seolah berjalan dengan ritme yang lain. Tidak ada kebisingan khas siang hari, tidak ada tuntutan aktivitas duniawi yang mendesak. Yang ada hanya ruang untuk diam, merenung, dan beribadah.
Di momen seperti ini, hal-hal kecil yang biasanya luput justru terasa lebih nyata. Membaca Al-Qur’an terasa lebih khusyuk. Doa terasa lebih personal. Bahkan duduk dalam keheningan pun bisa menghadirkan rasa tenang tersendiri yang jarang dirasakan di tengah rutinitas harian. Pikiran tidak terpecah ke banyak hal selain diri sendiri dan Allah SWT.
