Bagi sebagian orang, i’tikaf juga menjadi semacam ruang evaluasi diri. Ramadan yang hampir berakhir sering memicu refleksi, sudah sejauh mana bulan ini dijalani, apa yang berubah, apa yang belum sempat diperbaiki. Dalam suasana yang lebih sunyi dan minim distraksi, proses merenung seperti ini terasa lebih jujur.
Di sisi lain, i’tikaf juga memperlihatkan sisi sosial yang menarik. Meski identik dengan aktivitas personal, masjid sering dipenuhi orang-orang dengan tujuan serupa. Ada yang membaca Al-Qur’an, ada yang berzikir, ada yang sekadar duduk tenang sambil muhasabah diri. Tanpa banyak percakapan, tapi tetap terasa ada rasa kebersamaan. Semua berada di ruang yang sama, dalam niat yang kurang lebih sama.
Fenomena ini menjadi pengingat bahwa Ramadan bukan hanya tentang rutinitas menahan lapar dan haus. Ada dimensi spiritual yang lebih luas, yang kadang baru terasa di penghujung bulan. I’tikaf menjadi salah satu cara untuk memaksimalkan sisa waktu yang tersisa, bukan dalam arti sibuk secara fisik, tetapi secara batin.
Baca Juga:Ngabuburit Lebih Asik Dengan Ditemani Tontonan Menarik!World Tour via Ramadhan: Intip Tradisi Unik dari Berbagai Negara yang Bikin Vibes-nya Makin Seru!
Di tengah dunia yang serba cepat, i’tikaf terasa seperti pengalaman yang hampir langka. Sebuah momen ketika seseorang benar-benar melambatkan langkah, menjauh sejenak dari kesibukan duniawi, dan memberi ruang bagi ketenangan. Tidak semua orang mungkin menjalaninya, tetapi keberadaannya tetap menjadi bagian penting dari bulan suci Ramadan.
I’tikaf bukanlah sekadar tradisi atau ritual tahunan. Ia adalah pengingat sederhana bahwa di antara ramainya kehidupan duniawi, manusia tetap butuh jeda. Butuh ruang hening. Butuh momen untuk kembali fokus pada hal-hal yang sering tertutup oleh kesibukan dunia.
