JATINANGOR EKPRES – DI tepi Jalan Raya Jatinangor, tak jauh dari kampus Institut Manajemen Koperasi Indonesia, berdiri sebuah bangunan yang tak sekadar berdinding kayu dan beratap ijuk. Orang-orang menyebutnya Sabusu, singkatan dari Saung Budaya Sumedang. Ia bukan hanya ruang, melainkan denyut.
Di sanalah dulu gamelan berdentang setiap pekan. Anak-anak berlatih tari klasik dengan mata berbinar. Jaipong menghentak lantai kayu.
Karinding berdesir seperti napas tanah. Dan di sudut saung, para sesepuh berbincang tentang adat, tentang jati diri, tentang Sumedang yang tak boleh tercerabut dari akarnya.
Saung itu lahir dari kegelisahan.
Baca Juga:Ketergantungan Terhadap Bansos Bikin Betah di Zona Miskin
Dikutip dari laman sumedangtandang.com, sekitar akhir 1990-an, para seniman di Jatinangor merasa seperti berjalan sendiri. Komunitas tumbuh, sanggar berdiri, pertunjukan digelar dari kampung ke kampung. Tapi mereka tak punya rumah. Tak ada ruang tetap untuk berkarya, berdiskusi, atau sekadar menyimpan properti kesenian.
Bapak Supriatna, sesepuh Sanggar Seni Motekar, menjadi salah satu yang paling getol menyuarakan kebutuhan itu.
Bersama para seniman dan beberapa kepala desa, ia mengetuk pintu pemerintah. Mereka tak meminta kemewahan hanya tempat untuk menjaga nyala.
Tahun 2000, harapan itu berdiri dalam wujud nyata.Pembangunan Saung Budaya Sumedang diprakarsai Bupati saat itu, Haji Misbach, dengan visi budaya yang tegas.
Dukungan datang dari Departemen Perindustrian dan Perdagangan serta Departemen Pariwisata. Anggaran lebih dari Rp1,4 miliar digelontorkan. Bagi sebagian orang, itu hanya angka. Bagi seniman Jatinangor, itu adalah pengakuan.
Sabusu pun menjadi rumah.
Mahasiswa berdatangan. Budayawan mengisi diskusi. Anak-anak sanggar memamerkan kerajinan tangan. Di halaman, pedagang menjajakan produk khas Sumedang. Sabusu hidup seperti pasar gagasan dan panggung ekspresi dalam satu tarikan napas.
Program demi program digelar: pelatihan tari klasik, gamelan, jaipong, lomba kesenian, hingga rampak sekar. Di sana, seni bukan sekadar tontonan, melainkan pendidikan karakter.Namun, seperti banyak kisah ruang publik di negeri ini, ujian datang perlahan.
Baca Juga:
Ketika pengelolaan beralih ke pihak ketiga, orientasi berubah. Saung yang dulu terbuka bagi siapa saja yang ingin berkesenian, perlahan menjadi ruang sewa. Bisnis masuk. Komersialisasi mengambil tempat. Gamelan tak lagi rutin berdentang.Para seniman mundur satu per satu.
