Sabusu Jatinangor Tanpa Denting Gamelan, Warga Ungkap Cerita di Baliknya

REDAKSI, Kecamatan Jatinangor, Sumedang Ekspres
Rumah kami sempat terkunci,” ujar seorang seniman tua di Jatinangor. Yang ia maksud bukan rumah berdinding bata, melainkan Saung Budaya Sumedang tempat mereka menari, menabuh gamelan, dan menjaga agar Sunda tak sekadar jadi cerita. (ilustrasi).
0 Komentar

“Rasanya seperti kehilangan rumah sendiri,” kata seorang penggiat seni yang memilih tetap setia menunggu.

Desakan pun menguat. Pemerintah Kabupaten Sumedang melalui Disbudparpora akhirnya mengambil alih kembali pengelolaan.

Prosesnya tak mudah. Kontrak kerja sama yang belum habis masa berlakunya menjadi ganjalan. Hingga akhirnya, keputusan pahit diambil: Sabusu ditutup sementara.Sunyi.

Baca Juga:Ketergantungan Terhadap Bansos Bikin Betah di Zona Miskin

Tak ada latihan. Tak ada pertunjukan. Hanya debu yang perlahan menempel di lantai kayu.

Namun, rumah yang dibangun dari niat baik jarang benar-benar mati.

Setelah pengelola berganti, Saung Budaya Sumedang dibuka kembali. Kali ini dengan tekad mengembalikan ruhnya.

Reak kembali menggema. Pencak silat menampilkan jurus dengan sorot mata tajam. Sisingaan berlenggak, karinding berdesir, dan anak-anak kembali menari dengan kaki kecil yang menghentak percaya diri.

Sabusu tak lagi sekadar bangunan di pinggir jalan. Ia kembali menjadi media centre bagi pelaku seni, ruang promosi budaya, sekaligus etalase jati diri Sumedang.

Di tengah derasnya modernitas Jatinangor sebagai kota pendidikan, Sabusu berdiri sebagai pengingat: bahwa kemajuan tak harus menghapus akar.

Sebab sebuah daerah tak hanya dikenang dari gedung-gedung tinggi dan lalu lintas padatnya.

Ia dikenang dari bunyi gamelan yang tak berhenti, dari anak-anak yang masih hafal gerak jaipong, dan dari ruang-ruang yang memilih setia pada budaya.Dan Sabusu, yang pernah sunyi, kini kembali belajar bernyanyi.(red)

0 Komentar