Sejarah Takjil dan Awal Mula Tradisi Pembagian Takjil Gratis di Indonesia

Sejarah Takjil dan Awal Mula Tradisi Pembagian Takjil Gratis di Indonesia
Sejarah Takjil dan Awal Mula Tradisi Pembagian Takjil Gratis di Indonesia. (IST. CANVA)
0 Komentar

Pada zaman Nabi Muhammad SAW. umat Islam dianjurkan berbuka puasa dengan yang sederhana seperti kurma dan air putih terlebih dahulu, untuk menyegarkan berbuka sebelum melaksanakan salat maghrib.

Di berbagai negara yang menganut agama Muslim, tradisi berbuka berkembang sesuai budaya lokal. Makanan pembuka yang berbeda-beda di setiap negara dan daerahnya, tetapi tetap di prinsip berpegang pada kebersamaan dan kesederhanaan.

Di Indonesia sendiri, istilah takjil mengalami perubahan makna, dari yang awalnya berarti “menyegerakan berbuka” menjadi sebutan untuk hidangan pembuka puasa. Tradisi ini semakin kuat sejak berkembangnya kegiatan buka puasa bersama, berbagi makanan di masjid, dan budaya berbagi “takjil gratis” di jalanan saat Ramadhan.

Baca Juga:Berkah Tanpa Berlebihan: Gaya Hidup Sederhana di Bulan SuciRekomendasi Permainan Seru, Untuk Menemani Waktu Ngabuburit Kamu Bareng Orang Tersayang!

Membagikan takjil gratis memiliki banyak sekali makna, tak hanya menguntungkan untuk pihak yang menerimanya saja, namun pemberi pun akan mendapat pahala dan ganjaran yang besar terlebih berbagi pada saat bulan suci ini. Memberikan sesuatu hanya untuk mengharapkan keridhoan Allah SWT, dan tidak mengharapkan balasan apapun.

Sebagai kesimpulan, takjil bukan hanya sekadar makanan saat berbuka, melainkan sebuah tradisi yang menyimpan nilai-nilai kebaikan, kebersamaan, dan kepedulian. Ramadan mengajarkan bahwa, bukan hanya tentang menahan lapar dan haus, tetapi juga tentang bagaimana kita bisa lebih peduli terhadap sesama, mempererat tali silaturahmi, dan semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT. (Dwi Taufan Hidayat).

0 Komentar