JATINANGOR EKSPRES – Kolak sebagai takjil merupakan penanda tak terpisahkan dari rutinitas Ramadhan di Indonesia setiap tahunnya. Aroma santan manis di pinggir jalan menjadikan kolak meninggalkan kesan spesial di bulan Ramadhan. Tidak hanya sekadar makanan, kolak justru merupakan sebuah peninggalan akulturasi Islam Nusantara, dimana dakwah melibatkan kuliner sejak abad 15.
Asal-Usul Dakwah Lewat Semangkuk Kolak
Kolak lahir di era transisi Kerajaan Demak-Mataram Islam, yang diperkenalkan oleh Wali Songo sebagai media penyebaran agama Islam di Jawa. Mengutip Anjangsana.id, kata “kolak” diambil dari bahasa Arab yang berarti “kul laka (makanlah)” tau “khalik (Sang Pencipta)”, mengingatkan rasa syukur ketika buka puasa. Mengutip wawancara sejarawan Fadly Rahman dengan Detik, kolak merupakan simbol pertobatan: pisang kepok “kapok” melakukan perbuatan berdosa, ubi “telo pendem” simbolis mengubur kesalahan, dan santan “santen” menggabarkan pangapunten (maaf). Peggunaan santan kelapa lokal pada kolak mewakili rasa syukur atas karunia Tuhan, dan gula merah manis memberikan harapan di bulan Ramadhan. Selain itu, Prasasti Watukara (902 M) mencatat nenek moyang memakan makanan sejenis dari gula aren pada masa Hindu-Buddha, dan diakulturasi menjadi kolak Islami. Wali Songo menggunakan kolak untuk media menarik massa, dengan mendorong rasa manis gurih dan mudah ditemukan dan diterima petani Jawa, dan tidak menggunakan dakwah keras.
Evolsui Takjil: Dari Rumah ke Gerobak
“Takjil” dalam bahasa Arab berarti buru; hentikan puasa, awalnya merupakan makanan keluarga yang sederhana. Kemudian pada era 1980-an urbanisasi di pulau Jawa bagian barat berubah menjadi bisnis pedagang kaki lima, dan kolak pisang atau ubi menjadi andalan karena harganya terjangkau, tahan lama, aman untuk antrean panjang. Seiring berjalannya waktu, varian kolak bertambah seperti kolak jagung, labu, bahkan durian, menjadikan kolak juga mengalami fusion lokal kaya akan rempah. Melansir FoodDetik, kolak merupakan takjil yang melambangkan gotong royong; membantu pedagang kecil, dimana hampir setiap sudut dan pinggir jalan menjadi pasar sementara ketika Ramadhan dan mewarisi budaya Jawa seperti Selametan.
