JATINANGOR EKPRES, CIMALAKA – Di balik tumpukan sampah yang menggunung di Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS) Cibeureum, Kecamatan Cimalaka, Kabupaten Sumedang, terdapat puluhan pekerja yang setiap hari berjibaku mengolah limbah rumah tangga dari berbagai wilayah.
Di lokasi inilah seluruh sampah dari masyarakat Sumedang bermuara sebelum akhirnya dipilah kembali untuk mengurangi dampak lingkungan.
TPA yang berada di kawasan lereng Gunung Tampomas tersebut berdiri di atas lahan seluas sekitar 10 hektare. Menurut informasi yang dihimpun di lapangan, area ini dulunya merupakan bekas lahan pertambangan pasir yang kemudian dimanfaatkan sebagai tempat pengelolaan sampah daerah.
Baca Juga:Warga Resah, Bau Sampah di Cibeureum Wetan Ganggu Aktivitas dan UsahaProgram Jumat Ngangkot Dinilai Belum Efektif, Sopir Angkot: ASN Masih Jarang Naik
Di tengah aktivitas kendaraan pengangkut yang datang silih berganti, para pekerja menjalankan tugas mereka memisahkan sampah yang masih memiliki nilai ekonomis. Selain staf pengelola, terdapat sekitar 50 pemulung yang turut menggantungkan hidup dari rongsokan yang mereka kumpulkan setiap hari.
Salah seorang staf senior TPAS, Hari, mengaku telah bekerja di lokasi tersebut selama kurang lebih 14 tahun. Selama itu pula ia menyaksikan langsung dinamika pengelolaan sampah di Sumedang.
“Saya sudah di sini sekitar 14 tahun. Barengan juga dengan teman operator alat berat, kami termasuk yang paling lama bekerja di sini,” ujar Hari saat ditemui, Rabu (11/3/2026).
Ia menjelaskan, secara keseluruhan TPAS tersebut telah beroperasi lebih dari tiga dekade. Awalnya lokasi pembuangan sampah berada di area yang lebih rendah, namun kemudian dipindahkan ke lokasi yang sekarang karena memiliki lahan yang lebih luas.
Untuk mendukung operasional pengangkutan sampah, pemerintah daerah saat ini menyediakan sekitar 17 armada kendaraan yang terdiri dari berbagai jenis, seperti truk amrol, dump truck, tronton hingga kendaraan pickup.
Dalam satu hari, aktivitas pengangkutan sampah bisa mencapai sekitar 40 hingga 45 ritase (RIT). Artinya, setiap armada dapat melakukan dua hingga tiga kali perjalanan dari sumber sampah menuju TPAS.
“Kalau soal cukup atau tidaknya armada, itu kebijakan kantor. Kami di lapangan yang penting menjalankan tugas agar sampah bisa tertangani,” katanya.
Baca Juga:Tips Mengonsumsi Mie Instan saat Sahur agar Tetap Sehat dan BerenergiSopir Angkot Keluhkan Jumat Ngangkot, ASN Disebut Masih Jarang Naik Angkutan Umum
Selain pekerja lapangan, di lokasi tersebut juga terdapat sekitar 25 staf yang bertugas mengelola operasional, serta tiga operator alat berat yang membantu proses penataan dan pengolahan sampah.
