JATINANGOR ESKPRES – Program Jumat Ngangkot yang diluncurkan pemerintah untuk mendorong penggunaan transportasi umum dinilai belum berjalan maksimal di lapangan.
Sejumlah sopir angkutan kota (angkot) mengaku masih jarang melihat pegawai pemerintah memanfaatkan angkot untuk berangkat kerja setiap hari Jumat.
Program Jumat Ngangkot sendiri dibuat dengan tujuan mengajak aparatur pemerintah menggunakan transportasi umum secara rutin setiap hari Jumat.
Baca Juga:5 Menu Sahur Tanpa Nasi yang Praktis, Kenyang, dan MenyehatkanHukum Itikaf di Masjid bagi Perempuan yang Belum Menikah Saat Lailatul Qadar: Boleh atau Tidak?
Selain untuk meningkatkan jumlah penumpang angkot, program ini juga diharapkan mampu membantu perekonomian para sopir angkutan umum serta mengurangi kemacetan dan polusi di perkotaan.
Namun berdasarkan pantauan di lapangan pada Rabu (11/3/2026), implementasi program tersebut dinilai belum berdampak signifikan. Para sopir angkot mengaku masih jarang menemukan pegawai pemerintahan yang menggunakan angkutan umum.
Salah seorang sopir angkot, Asep, mengatakan bahwa hingga saat ini penumpang dari kalangan pegawai pemerintah masih sangat minim.
“Jarang, jarang ada yang naik. Gak tahu itu programnya gimana,” ujar Asep saat ditemui Sumeks, Rabu (11/3).
Meski demikian, para sopir angkot menilai program tersebut sebenarnya memiliki tujuan yang baik. Jika dijalankan secara konsisten, program itu diyakini dapat membantu meningkatkan pendapatan sopir angkutan umum yang selama ini mengalami penurunan jumlah penumpang.
Menurut Asep, sebagian besar pegawai pemerintah masih memilih menggunakan kendaraan pribadi seperti sepeda motor atau mobil untuk berangkat bekerja.
“Banyaknya yang pakai mobil atau motor sendiri,” tambahnya.
Para sopir pun berharap pemerintah dapat melakukan evaluasi dan pengawasan lebih serius terhadap pelaksanaan program tersebut. (red).
