Hari Lebaran Tak Selalu Sama, Menelusuri 7 Tradisi Unik Hari Raya di Indonesia

Hari Lebaran Tak Selalu Sama, Menelusuri 7 Tradisi Unik Hari Raya di Indonesia
ILUSTRASI Hari Lebaran Tak Selalu Sama, Menelusuri 7 Tradisi Unik Hari Raya di Indonesia
0 Komentar

JATINANGOR EKSPRES – Di Indonesia yang hanya kita tahu, saat lebaran setiap orang berkumpul dengan keluarganya masing-masing, ada yang tetap tinggal dirumah menanti kedatangan saudara lain, ada pula yang pergi mengunjungi rumah yang didalamnya terdapat orang tua yang perlu bersilaturahmi.

Tapi bukan soal bersilaturahmi saja, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia, memiliki cara tersendiri dalam menyambut Hari Raya Idulfitri, mulai dari ritual turun-temurun, hidangan khas, hingga kebiasaan sosial yang mempererat hubungan antarwarga.

Keberagaman budaya inilah yang menjadikan lebaran di Indonesia terasa istimewa, karena setiap tradisi mencerminkan nilai kebersamaan, rasa syukur, dan penghormatan terhadap leluhur.

Baca Juga:Balik Sehat Setelah Lebaran, 5 Menu Simpel Biar Badan Gak Terasa Berat LagiUsai Lebaran, Kenapa Mood Jadi Turun? Ini Tanda Holiday Blues yang Sering Nggak Disadari

Yuk! Baca tradisi unik apa saja si yang dilakukan saat Lebaran di berbagai daerah Indonesia?

1. Perang Topat (Lombok)

Tradisi unik yang dilakukan dalam rangkaian perayaan lebaran ini, dilakykan tepat pada hari ke – 6 atau seminggu setelah Idulfitri.

Masyarakat merayakan lebaran dengan cara melempar ketupat satu sama lain di kawasan Pura Lingsar.

Tradisi ini merupakan simbol syukur, kerukunan antar umat beragama Islam dengan Hindu, dan juga kebersamaan masyarakat Sasak.

2. Grebeg Syawal (Yogyakarta)

Tradisi tahunan Keraton Yogyakarta yang digelar setiap 1 Syawal (Idulfitri) sebagai bentuk rasa syukur setelah bulan Ramadan.

Kegiatan ini menampilkan arak-arakan gunungan hasil bumi, oleh prajurit keraton menuju Masjid Gede Kauman, yang kemudian diperebutkan warga sebagai simbol sedekah raja.

Selain aspek religius, momen ini menjadikan ikatan antara keraton dan rakyat, sekaligus untuk melestarikan budaya Jawa.

3. Bakar Gunung Api (Bengkulu)

Baca Juga:Sukses Puasa Syawal Tanpa Lemas, Cara Pintar Kembali Beribadah Setelah Puas Berpesta PoraElastisitas Waktu dan Lima Kilometer Rasa Galaksi, Panduan Waras Arus Balik 2026

Tradisi Bakar Gunung Api/Rojok Sayak dalam bahasa setempat, merupakan budaya masyarakat suku Serawai di Bengkulu untuk menyambut Idulfitri.

Tradisi ini dilakukan pada malam takbiran atau hari ke-27 Ramadan. Kegiatan ini melibatkan pembakaran tumpukan batok kelapa yang disusun menjulang seperti sate di depan rumah, sebagai simbol kesyukuran, do’a bagi arwah leluhur, serta cahaya kemenangan.

4. Meugang (Aceh)

Tradisi menyembelih dan memakan daging sapi atau kerbau secara bersama-sama di Aceh untuk menyambut bulan Ramadan, Idulfitri, dan Idul Adha.

Dilakukan secara turun temurun sejak era Kesultanan Aceh, momen yang menjadi simbol rasa syukur, berbagi kepada fakir miskin, dan mempererat tali silaturahmi dengan keluarga.

0 Komentar