Hari Lebaran Tak Selalu Sama, Menelusuri 7 Tradisi Unik Hari Raya di Indonesia

Hari Lebaran Tak Selalu Sama, Menelusuri 7 Tradisi Unik Hari Raya di Indonesia
ILUSTRASI Hari Lebaran Tak Selalu Sama, Menelusuri 7 Tradisi Unik Hari Raya di Indonesia
0 Komentar

5. Ngejot (Bali)

Makna “Ngejot” berasal dari bahasa Bali yang artinya “memberi” atau “menyuguhkan” makanan yang disebut “enjotan” kepada tetangga sekitar.

Berbagi makanan kepada tetangga dan saudara menjelang hari raya, yang menjadi simbol kuat toleransi antar umat beragama.

Dilakukan secara turun temurun tak hanya saat Idulfitri tetapi juga pada saat hari besar keagamaan seperti Galungan, Kuningan, Nyepi, Idul Adha, hingga Natal.

Baca Juga:Balik Sehat Setelah Lebaran, 5 Menu Simpel Biar Badan Gak Terasa Berat LagiUsai Lebaran, Kenapa Mood Jadi Turun? Ini Tanda Holiday Blues yang Sering Nggak Disadari

Ngejot menjadi bentuk syukur dan cara meningkatkan kerukunan antar warga yang berbeda-beda kepercayaan, dan membuktikan ikatan sosial yang kuat di masyarakat Bali.

6. Perahu Baganduang (Riau)

Tradisi parade perahu hias khas Lubuk, Jambi, Kabupaten Kuantan Singingi, Riau, yang melibatkan pernyatuan 2-3 sampan panjang menjadi satu.

Festival ini diadakan setiap minggu pertama setelah Idulfitri tepat pada 8 Syawal, sebagai ajang silaturahmi, syukuran, dan warisan budaya yang sudah ada lebih dari 1 abad.

7. Malamang (Sumatera Barat)

Tradisi masyarakat Minangkabau menjelang Ramadan, Idulfitri, atau Maulid Nabi selalu melakukan kegiatan memasak beras ketan(puluik) bersama santan di dalam bambu muda yang dibakar di atas bara api.

Jenis Lamang, selain lamang puluik, terdapat juga variasi lain seperti lamang pisang, lamang kuning, dan lamang ubi. Malamang adalah ajang gotong royong dan silaturahmi antarwarga untuk mempererat hubungan sosial.

Melalui tradisi-tradisi tersebut, Lebaran tidak hanya dirayakan sebagai hari kemenangan, tetapi juga sebagai ajang untuk melestarikan identitas budaya yang kaya dan beragam.

0 Komentar