JATINANGOR EKSPRES – Setelah sebulan penuh berpuasa Ramadhan, kita baru saja melewati fase “balas dendam” yang menyenangkan: berkumpul bersama keluarga besar dan menyantap berbagai hidangan khas Lebaran.
Dari rendang yang kaya bumbu hingga tumpukan kue kering di meja tamu, tubuh kita seolah baru saja menyelesaikan pesta maraton.
Namun, transisi dari pola makan bebas kembali ke ibadah Puasa Syawal seringkali menjadi tantangan tersendiri.
Baca Juga:Elastisitas Waktu dan Lima Kilometer Rasa Galaksi, Panduan Waras Arus Balik 2026Pahlawan dalam Kesenyapan Aroma, Nasib Petugas Kebersihan di Sela Debu Arus Balik
Tak jarang, tubuh terasa lebih cepat lelah atau mengantuk karena kadar gula darah yang sempat melonjak selama hari raya.
Agar niat ibadah plus-plus ini tetap terjaga tanpa harus mengorbankan produktivitas harian, diperlukan strategi pintar untuk “menyetel ulang” metabolisme tubuh.
Oleh karena itu, strategi pintar sangat dibutuhkan agar ibadah sunnah ini tidak hanya mendulang pahala, tetapi juga tetap menjaga produktivitas harian Kamu tanpa gangguan rasa kantuk yang berlebihan.
Mari kita bedah cara kembali bugar dan sukses menuntaskan enam hari Puasa Syawal tanpa drama badan lemas.
Langkah pertama yang paling krusial adalah memperbaiki pola hidrasi dengan rumus yang tepat. Selama hari raya, asupan minuman manis seperti sirup atau minuman bersoda cenderung meningkat, yang justru dapat memicu dehidrasi seluler.
Saat memulai Puasa Syawal, pastikan Kamu kembali ke pola minum air mineral yang teratur, yakni dua gelas saat berbuka, empat gelas sepanjang malam, dan dua gelas saat sahur.
Menghindari minuman berkafein tinggi seperti kopi atau teh pekat saat sahur juga sangat disarankan, karena kafein bersifat diuretik yang akan menarik cairan keluar dari tubuh lebih cepat, sehingga memicu rasa haus dan lemas di siang hari.
Baca Juga:Pelayaran Menuju Harapan, Saat Terminal Menjadi Altar Perpisahan DinginGeliat Ekonomi di Tepian Aspal, UMKM Oleh-Oleh Jalur Selatan dalam Arus Balik 2026
Selain hidrasi, pemilihan jenis karbohidrat saat sahur memegang peranan vital sebagai bahan bakar tubuh sepanjang hari.
Alih-alih mengonsumsi nasi putih dalam jumlah besar atau makanan berbahan tepung terigu yang cepat diserap dan cepat pula membuat lapar, beralihlah ke karbohidrat kompleks.
Pilihan seperti nasi merah, ubi jalar, atau oat memiliki indeks glikemik yang rendah, yang berarti energi akan dilepaskan secara perlahan ke dalam aliran darah.
