JATINANGOR EKSPRES – Kemiskinan tidak hanya bersumber dari kegagalan. Banyak faktor yang membuat seseorang tetap miskin sehingga tidak bisa keluar dari zona tersebut. Keadaan miskin membuat seseorang harus bangkit dengan sekuat tenaga. Kuat saja tidak cukup, kita harus memiliki mental kaya; jangan terus diam dan nyaman pada mental miskin.
Mental miskin menjadikan seseorang tetap miskin karena pola pikir yang buruk membuat kebiasaan dan aktivitas yang dilakukan tidak mampu keluar dari zona tersebut. Perubahan pola pikir menjadi hal dasar untuk menjadi kaya. Sebenarnya, apa alasan seseorang tetap nyaman pada pola pikir miskin?
Berikut beberapa alasan seseorang memiliki mental miskin:
1. Keturunan
Keluarga yang memiliki ekonomi buruk tentu akan berdampak kepada anak. Anak akan berperilaku dan terbiasa dengan pola pikir orang tua. Secara tidak langsung, orang tua menurunkan pola pikir kemiskinan tersebut kepada anak-anaknya.
2. Lingkaran Setan
Baca Juga:Sulit Kaya? Kenali 3 Ciri Mental Miskin yang Bisa Menjerat Kamu dalam Lingkaran Setan Keuangan!Jangan Sampai Menyesal! Ini 5 Hal yang Sering Disesali di Masa Tua, Mulai dari Karier hingga Keuangan
Lingkaran setan menjadikan kita susah keluar dari pola pikir buruk. Sebagai contoh, bekerja seharusnya untuk biaya keluarga inti, akan tetapi kita harus membayar biaya sekolah adik, alhasil uang habis. Kemudian kita kembali bekerja hanya untuk memenuhi kebutuhan keluarga besar, dan seterusnya.
3. Hidup di Era Kapitalis
Sistem kapitalis sering kali dianggap tidak adil karena orang-orang kaya akan terus kaya, orang menengah akan tetap berada di tengah, dan orang miskin berisiko akan selalu miskin jika tidak ada gebrakan besar.
Jadi, bagaimana sebenarnya kita mendobrak mentalitas miskin ini? Ada dua pilihan saat seseorang ingin keluar dari mentalitas tersebut:
Jadi Egois
Kita hidup untuk diri kita sendiri tanpa memikirkan utang-piutang keluarga besar. Karena sebenarnya, utang tersebut bukan tanggung jawab langsung kita dan secara hukum kita tidak wajib membayarnya jika bukan kita yang meminjam.
Mengorbankan Uang
Kita Membayar utang keluarga yang bukan tanggung jawab kita dan harus kembali berjuang untuk mengumpulkannya dari nol. Kadang pilihan ini berakhir dengan kita kesusahan sendiri. Kejadian ini dikarenakan anggota keluarga lain yang tidak mau mengubah pola pikir miskin dan akhirnya menyusahkan kita.
