Lalagoon Waterpark Picu Kemacetan di Jatinangor, Warga Soroti Dampak Lalu Lintas Sejak Hari Pertama Dibuka

Lalagoon Waterpark Picu Kemacetan di Jatinangor, Warga Soroti Dampak Lalu Lintas Sejak Hari Pertama Dibuka
Kehadiran destinasi wisata baru Lalagoon Waterpark di kawasan Desa Cikeruh, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang, menuai perhatian masyarakat terutama kemacetan arus lalulintas.
0 Komentar

JATINANGOR EKPRES – Kehadiran destinasi wisata baru Lalagoon Waterpark di kawasan Desa Cikeruh, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang, menuai perhatian masyarakat.

Selain menarik minat pengunjung sejak resmi dibuka pada 19 Maret 2026, lonjakan kendaraan menuju lokasi juga memicu persoalan serius di sektor lalu lintas.

Sejak hari pertama beroperasi, arus kendaraan yang keluar-masuk kawasan wisata tersebut terpantau padat.

Baca Juga:Proyek TPSA Cijeruk Mandek, Akses Jalan dan Penolakan Warga Jadi Kendala UtamaKiprah LSM di Tengah Masyarakat

Kemacetan kerap terjadi terutama pada jam-jam sibuk, mengganggu aktivitas warga sekitar hingga pelayanan pemerintahan desa.

Kondisi ini menjadi sorotan utama masyarakat yang berharap adanya penanganan cepat dari pihak terkait.

Ketua RW 6 Desa Cikeruh, Arief Saripudin, mengungkapkan bahwa peningkatan volume kendaraan yang signifikan telah berdampak langsung pada kenyamanan lingkungan. Ia menyebut, lalu lintas yang tersendat tidak hanya dirasakan pengguna jalan, tetapi juga menghambat mobilitas warga dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.

“Sejak dibuka, kemacetan cukup terasa. Kendaraan hilir mudik dan ini cukup mengganggu, bahkan berdampak pada pelayanan di pemerintahan desa,” ujarnya.

Meski demikian, Arief menegaskan bahwa pihaknya tetap mendukung keberadaan Lalagoon Waterpark sebagai potensi penggerak ekonomi baru di wilayah tersebut. Ia berharap ada sinergi antara pengelola dengan masyarakat setempat, terutama dalam hal pemberdayaan tenaga kerja lokal dan pelestarian budaya.

“Kami berharap ada kolaborasi, misalnya menampilkan seni budaya tradisional dan membuka peluang kerja bagi warga sekitar,” katanya.

Selain persoalan lalu lintas, pihaknya juga menyoroti sejumlah hal lain, termasuk penggunaan sumber air di kawasan wisata. Berdasarkan informasi yang diterima, terdapat dua titik pompa air submersible yang digunakan.

Baca Juga:Doa Sebelum Tidur Beserta Sunnah yang Diajarkan Rasulullah SAWApa Arti Backstreet Dalam Hubungan dan Dampaknya?

Arief menyebut, pihaknya bersama warga terus melakukan pemantauan terhadap berbagai aspek, mulai dari kondisi lingkungan, tenaga kerja, hingga perizinan keramaian. Komunikasi dengan pemerintah desa pun terus dilakukan guna mencari solusi terbaik.

“Kami mencatat beberapa kekurangan, seperti lalu lintas, tenaga kerja, hingga izin keramaian. Semua ini terus kami komunikasikan dengan pemerintah desa,” tuturnya.

Di sisi lain, keluhan juga datang dari pengunjung terkait fasilitas di dalam area wisata.

Beberapa di antaranya menyampaikan keterbatasan mushola serta minimnya loker penyimpanan barang, yang kerap penuh saat pengunjung membludak. Selain itu, persoalan kebersihan juga menjadi perhatian.

0 Komentar