Bukan Sekadar Angka, Inilah 3 Konsep Pendidikan Ki Hadjar Dewantara yang Sering Terlupakan

Potret Ki Hadjar Dewantara, tokoh pelopor pendidikan Indonesia dan pendiri Taman Siswa.
Potret Ki Hadjar Dewantara, tokoh pelopor pendidikan Indonesia dan pendiri Taman Siswa. (Foto: Disway)
0 Komentar

JATINANGOR EKSPRES – Sekolah menjadi hal wajib yang harus dilakukan oleh setiap orang di dunia, akan tetapi bukan berarti berdosa jika tidak dilakukan. Sekolah menjadi pusat pembelajaran dimulai dari struktur hingga lingkungan yang diatur sekompleks mungkin agar tenang dan nyaman untuk belajar.

Pendidikan di Indonesia kadangkala berbeda jauh dengan kenyataan di kemudian hari. Pasalnya, banyak pelajaran yang diajarkan akan tetapi tidak berguna saat bermasyarakat, dan sebaliknya, pembelajaran yang penting justru tidak diajarkan oleh para guru.

Indonesia memiliki tokoh pendidikan bernama Ki Hadjar Dewantara yang memiliki filosofi untuk para pengajar, yaitu Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madya Mangun Karso, dan Tut Wuri Handayani. Filosofi ini menekankan peran guru sebagai teladan, motivator, dan pendorong bagi siswa. Pendidikan bertujuan mencapai kebahagiaan setinggi-tingginya.

Baca Juga:Tujuan Hidup Berubah? Tetap Tenang! Ini 2 Cara Menghadapinya Tanpa Perlu Stres BerlebihanTujuan Hidup Berubah-ubah? Jangan Panik, Ini 2 Alasan Mengapa Hal Itu Wajar Terjadi!

Banyak sekali pemikiran-pemikiran Ki Hadjar Dewantara yang tidak diajarkan di sekolah. Berikut 3 hal yang harus kamu ketahui:

1. Tujuan Pendidikan

Sebenarnya apa yang menjadi tujuan sebuah pendidikan? Memiliki nilai bagus? Atau hanya mencerdaskan seseorang? Ki Hadjar Dewantara memiliki pemikiran bahwasanya tujuan pendidikan yaitu menjadi manusia yang bahagia.

Manusia yang bahagia berpusat pada konsep pendidikan yang memerdekakan, selamat raganya dan bahagia jiwanya. Manusia bahagia adalah mereka yang mampu mengatur dirinya sendiri, hidup mandiri, serta selaras dengan kodrat alam dan zaman melalui keseimbangan cipta, rasa, dan karsa.

2. Peran Penting Tri Rahayu

Ki Hadjar Dewantara percaya bahwasanya segala sesuatu terhubung untuk menciptakan sesuatu yang lebih besar. Sama halnya dengan Tri Rahayu, yaitu Hamemayu Hayuning Sarira (menjaga diri), Hamemayu Hayuning Bongso (menjaga bangsa), dan Hamemayu Hayuning Bawono (menjaga alam semesta). Pendidikan ini berfokus pada keseimbangan individu, sosial, dan lingkungan.

Saat kita menjadi orang yang merdeka kemudian bahagia, kita akan merasakan bahwasanya orang di sekitar kita akan menjadi lebih baik. Pada dasarnya, satu orang yang berpendidikan, merdeka, dan bahagia akan mengubah satu keluarga. Satu keluarga akan mengubah satu daerah, satu daerah akan mengubah satu wilayah, satu wilayah akan mengubah satu bangsa, dan satu bangsa akan mengubah dunia.

0 Komentar