Cinta Itu Candu! Mengapa Jatuh Cinta Bisa Membuat Seseorang Jadi "Bodo" secara Logika?

Cinta Itu Candu! Mengapa Jatuh Cinta Bisa Membuat Seseorang Jadi \"Bodo\" secara Logika?
Ilustrasi jaringan saraf otak yang bersinar dengan ikon dopamin dan oksitosin, menggambarkan proses kimiawi saat seseorang jatuh cinta dan bagaimana emosi mengambil alih logika. (Foto: Disway)
0 Komentar

JATINANGOR EKSPRES – Jatuh cinta adalah pengalaman emosional dan biologis mendalam yang melibatkan pelepasan zat kimia otak seperti dopamin dan norepinefrin, memicu euforia, detak jantung cepat, serta fokus intens pada seseorang.

Seseorang yang sedang mengalami jatuh cinta tentu akan merasa sangat bahagia dan rela melakukan apa pun demi seseorang yang ia cintai. Saat jatuh cinta dan patah hati, sering kali logika dan perasaan tidak sejalan; perasaan lebih sering mengambil alih tingkah laku di kehidupan nyata. Lantas, mengapa saat orang jatuh cinta selalu mengalami hal tersebut?

VTA dan Dopamin

Ventral Tegmental Area atau VTA terletak di otak tengah, berdekatan dengan substantia nigra. Meskipun mengandung beberapa jenis neuron yang berbeda, area ini terutama dicirikan oleh neuron dopaminergiknya yang memproyeksikan dari VTA ke seluruh otak.

Baca Juga:IQ Bukan Harga Mati! Ini 4 Cara Efektif untuk Meningkatkan Kapasitas dan Kecerdasan Otak KamuPernah Gagal dan Merasa Hancur? Mengenal Filosofi Kintsugi untuk Sembuhkan Trauma Masa Lalu

Dopaminsaat jatuh cinta meningkat drastis, memicu perasaan euforia, gembira, dan motivasi tinggi. Hormon ini dilepaskan oleh otak sebagai sistem penghargaan (reward system), menciptakan rasa candu untuk terus memikirkan pasangan dan memberikan energi fisik seperti jantung berdebar.

Oksitosin dan Vasopresin

Oksitosin dan vasopresin adalah dua jenis hormon neuropeptida yang diproduksi di hipotalamus dan dilepaskan oleh kelenjar pituitari posterior. Keduanya memiliki struktur mirip tetapi fungsi berbeda. Oksitosin dikenal sebagai “hormon cinta” yang merangsang ikatan emosional dan kedekatan. Sementara itu, vasopresin mengatur keseimbangan cairan, tekanan darah, dan respons stres. Seiring berjalannya waktu, cinta akan terus berkembang dan semakin harmonis; hormon oksitosin dan vasopresin berperan penting dalam periode ini.

Efek Samping

Efek samping dari jatuh cinta sering membuat orang menjadi “bodo”; hal-hal yang tidak masuk akal sering kali dibenarkan demi sang kekasih hati. Dopamin yang berlebih akan menipiskan serotonin. Orang yang mengalami “kebodohan” akibat efek jatuh cinta itu dikarenakan serotonin tidak bisa mengatur emosi dan perasaan dengan stabil karena otak terlalu terbiasa dengan lonjakan dopamin yang berlebihan.

Pada akhirnya, jatuh cinta memang sebuah mekanisme biologis yang luar biasa kuat. Ketika otak dibanjiri oleh hormon kebahagiaan, wajar jika pertimbangan logis terkadang terpinggirkan oleh gairah emosional. Namun, memahami bahwa ada “pabrik kimia” yang bekerja di balik perasaan tersebut dapat membantu kita untuk tetap sedikit menginjak bumi. Cinta sejati mungkin dimulai dari lonjakan dopamin di VTA, tetapi ia akan bertahan melalui keseimbangan oksitosin yang menenangkan. Jadi, nikmati saja indahnya jatuh cinta, tapi jangan lupa untuk sesekali mengajak logika kembali berdiskusi.

0 Komentar