NAMANYA pesan, bisa apa saja. Dan setiap hari kita selalu bertukar pesan. Terbanyak lewat whatsApp.
Martin Heideger atau Paul Watzlawick menyatakan apa pun bentuk dan media komunikasi memiliki pesan yang ingin disampaikan.
Bisa jadi ada jutaan pesan tersampaikan setiap detik di platform pengantar pesan media sosial.
Baca Juga:Halalbihalal PGRI Pamulihan, Soroti Kesejahteraan Guru yang Belum MerataTangis Haru Iringi Pengumuman SNBP 2026, Momen Keluarga Sambut Kelulusan Kedokteran Unpad
Tak semua bermakna pun tak semua ada makna. Namun pesan dari Try Sutrisno, betul-betul menghunjam kami.
Pesan itu bukan datang begitu saja. Tapi hadir dari pengalaman panjang perjuangan hidupnya.
Diusia kanak-kanak, Try Sutrisno telah belajar arti kerja keras dan ulet.
Berjualan koran dan rokok menjadi pertarungan pertama untuk membantu kehidupan keluarga.
Walau kadang tak laku, tetap dijalani dengan senyum dan terus jualan.
Koran yang kemudian mengantarkan perjalanan hidupnya ke kursi Wakil Presiden.
Try kecil pun ditempa dalam perjuangan fisik. Diusia 13 tahun dia menjadi kurir informasi Batalyon Poncowati.
Sang Ayah Subandi adalah petugas medis di Batalyon Poncowati. Sejak kecil, Try telah ditempa kecintaan kepada bangsa dan tanah air.
Baca Juga:Percepat Sertifikasi Wakaf, Mentri ATR /BPN serahkan 33 Sertifikat Rumah Ibadah di Sulawesi TengahGempa Kuat Lebih dari 1 Menit Guncang Maluku Utara–Manado, 1 Orang Dilaporkan Tewas
Try Sutrisno, nama yang penuh cobaan, namun tak pernah error. Tak error oleh aji mumpung, ketika memegang jabatan tinggi apa pun.
Baginya jabatan adalah amanah. Dan harus dijaga dengan integritas, tegas, kesederhanaan, kemanusiaan dan ideologi.
Bagi Try, tak ada beda antara yang dikatakan dengan yang dilakukannya. Satu kata satu perbuatan.
Tak mancla-mencle akibat berat diganduli kepentingan. Atau macam bunglon merubah haluan bergantung hembusan kekuasaan, untuk cari selamat dan enak sendiri.
Kalau ia bicara, isinya bukan basa-basi. Macam bawahan ketemu atasan yang butuh validasi.
Seolah atasan adalah gula-gula manis yang harus dijilati. Pesan Pak Try tajam soal Pancasila, “Jangan coreng nama Pancasila dengan perilaku tidak Pancasilais.”
Tamparan kepada manusia Indonesia yang berideologi Pancasila, tapi masih serobot lampu merah dan korupsi.
Itu yang buat Try geleng-geleng. Dan geleng-gelengnya Tri pun ditujukan pada amandemen Undang-Undang Dasar (UUD 1945) yang dianggap kebablasan.
Ketika bercengkrama dengan putranya, Beliau berpesan, “saya masih punya waktu 10 tahun lagi untuk memerjuangkan Amandemen UUD 1945 agar kembali kepada UUD 1945 ,” begitu katanya ketika ngobrol santai dengan Ceppy, alias Taufik Dwicahyono, putra ke duanya. Pesan itu ketika beliau berusia 80 tahun.
