Dari Seremoni ke Keberlanjutan: Menata Ulang Pengabdian Masyarakat Desa

Yulianna Puspitasari, drh., M.VSc., Ph.D.
Yulianna Puspitasari, drh., M.VSc., Ph.D.
0 Komentar

Oleh: Yulianna Puspitasari, drh., M.VSc., Ph.D. (Wakil Dekan 3 Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga)

PENGABDIAN kepada Masyarakat masih kerap dipersepsikan sebagai agenda seremonial: datang ke desa, melaksanakan kegiatan, berfoto, lalu selesai.

Pola seperti ini mungkin memenuhi kewajiban administratif, tetapi seringkali belum menyentuh persoalan mendasar yang dihadapi masyarakat desa. Bagi peternak rakyat, perubahan tidak lahir dari intervensi singkat, melainkan dari proses pendampingan yang konsisten dan berkelanjutan.

Baca Juga:Jatinangor Makin Hidup, 8 Cafe Ini Jadi Tempat Favorit MahasiswaGelap Gulita di Jalur Bandung–Garut, Kenapa Balap Liar Justru Marak di Depan Kahatex?

Di banyak wilayah pedesaan, peternakan rakyat menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Produktivitas ternak masih rendah, manajemen pemeliharaan cenderung tradisional, akses terhadap teknologi dan layanan kesehatan hewan terbatas, serta kemampuan adaptasi terhadap dinamika ekonomi relatif lemah. Ketika pengabdian masyarakat dilakukan secara jangka pendek, dampak yang dihasilkan seringkali bersifat sementara dan sulit dipertahankan.

Kondisi tersebut menunjukkan perlunya menata ulang paradigma pengabdian masyarakat. Pengabdian seharusnya tidak dimaknai sebagai kegiatan satu kali, melainkan sebagai proses jangka panjang yang dirancang untuk mendorong perubahan perilaku dan peningkatan kapasitas masyarakat. Dalam konteks inilah pendekatan desa binaan menjadi relevan sebagai model pengabdian yang lebih substansial.

Pengalaman pendampingan di desa menunjukkan bahwa pemberdayaan peternak membutuhkan waktu. Diperlukan tahapan yang jelas, mulai dari pemetaan masalah berbasis kebutuhan lokal, peningkatan pengetahuan dan ketrampilan, hingga pendampingan teknis yang dilakukan secara berulang. Tanpa keberlanjutan, inovasi yang diperkenalkan berisiko tidak terinternalisasi dalam praktik sehari-hari peternak.

Peluncuran desa binaan seharusnya dimaknai sebagai komitmen jangka menengah hingga panjang, bukan sekedar penanda dimulainya kegiatan.

Program pengabdian yang dirancang hingga lima tahun, misalnya, memungkinkan terjadinya proses belajar bersama antara perguruan tinggi dan masyarakat desa. Dalam rentang waktu tersebut, perubahan tidak hanya diharapkan, tetapi juga dipantau dan dievaluasi secara bertahap.

Peran perguruan tinggi dalam konteks ini menjadi krusial. Kampus tidak cukup hanya menjadi produsen pengetahuan, tetapi perlu hadir sebagai mitra strategis pembangunan desa.

Melalui pengabdian masyarakat yang berkelanjutan, dosen dan mahasiswa dapat menerjemahkan keilmuan menjadi solusi yang aplikatif dan sesuai dengan kebutuhan lapangan. Lebih dari itu, perguruan tinggi memiliki kapasitas untuk melakukan evaluasi berbasis data sehingga dampak pengabdian dapat diukur secara objektif.

0 Komentar