JATINANGOR EKSPRES – Jatinangor selalu punya cara untuk merayakan kesedihan. Di balik kabut tipis yang menyelimuti sisa hujan di Jalan Raya Bandung-Sumedang, ada luka yang tertinggal sebuah pengkhianatan yang terasa lebih dingin dari angin malam di kaki Gunung Manglayang.
Rasanya seperti kehilangan arah di tengah hiruk-pikuk mahasiswa, saat janji-janji yang dulu semanis kopi di kedai favorit, mendadak basi dan meninggalkan pahit yang tak kunjung hilang.
Namun, di kota pendidikan ini, kita diingatkan bahwa belajar bukan hanya soal teori di bangku kuliah, melainkan juga tentang seni menyembuhkan hati. Mencintai diri sendiri bukanlah sebuah tujuan instan, melainkan sebuah perjalanan panjang menembus kabut sebuah keberanian untuk tetap berjalan meski kompas kepercayaan kita baru saja dipatahkan secara paksa.
Baca Juga:Keluar Nya Asap Pada Salah Satu Gerbong KRL, Malah Menimbulkan Perdebatan NetizenMerapatkan yang jauh: Rekomendasi aplikasi terbaik untuk pasangan LDR
Pengkhianatan tidak pernah datang dengan peringatan. Ia datang seperti hujan mendadak di Jatinangor dingin, membasahi tanpa ampun, dan membuat segalanya menjadi buram. Di sepanjang jalan Sayang atau sudut-sudut kantin yang dulu penuh tawa, kini hanya ada gema janji yang diingkari.
Rasanya sulit membedakan mana yang lebih menyesakkan kenyataan bahwa dia pergi, atau kenyataan bahwa dia tidak pernah benar-benar jujur saat bertahan. Seringkali, pertanyaan pertama yang muncul bukanlah “kenapa dia tega?”, melainkan “apa yang salah dengan diriku?”.
Kita terjebak memandangi kabut dari jendela kamar kos, memutar kembali memori seperti film usang, berharap ada akhir yang berbeda. Namun, langkah pertama untuk sembuh adalah menyadari satu hal seseorang mengkhianatimu karena keterbatasan karakter mereka, bukan karena kurangnya nilai dirimu.
Jatinangor mengajarkan kita tentang sirkulasi; ada yang datang untuk belajar, ada yang lulus dan pergi. Begitu juga dengan orang-orang dalam hidup kita. Seni menyembuhkan hati dimulai saat kita berhenti mencoba mencari alasan di balik tindakan mereka yang menyakitkan.
Untuk menemukan kembali bahagia, kita perlu melakukan beberapa hal.
Menerima Rasa Sakit, ngan dipendam. Menangislah jika perlu, biarkan luka itu luruh bersama air hujan Jatinangor. Menghargai rasa sakit adalah bentuk kejujuran pada diri sendiri. Mencintai diri berarti berani membatasi akses bagi mereka yang merusak kedamaianmu. Hapus atau menjauhlah, bukan karena benci, tapi untuk memberi ruang bagi hatimu bernapas tanpa gangguan bayang-bayang masa lalu.
