Bukan Sekadar Menahan Lapar: 5 Cara Memaksimalkan Ramadan untuk Perubahan Diri

Bukan Sekadar Menahan Lapar: 5 Cara Memaksimalkan Ramadan untuk Perubahan Diri
Bukan Sekadar Menahan Lapar: 5 Cara Memaksimalkan Ramadan untuk Perubahan Diri. (IST. CANVA)
0 Komentar

JATINANGOR EKSPRES – Setiap Ramadan datang, rasanya selalu ada dorongan untuk jadi versi diri yang lebih baik. Bukan cuma menahan lapar dan haus, tapi juga menahan ego, emosi, dan kebiasaan-kebiasaan yang selama ini kurang baik. Di bulan inilah banyak orang mulai memperbaiki diri, pelan-pelan merapikan apa yang sempat berantakan.

Ramadan seakan jadi titik awal untuk kembali mendekat kepada Allah, belajar mengendalikan diri, hingga lebih peduli pada sesama. Momen ini bukan sekadar rutinitas tahunan, tapi kesempatan untuk membentuk kebiasaan baik yang semoga bisa terus dijaga, bahkan setelah bulan suci berakhir.

Di bawah ini merupakan beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan untuk menjadikan Ramadan sebagai momen memperbaiki diri, baik secara spiritual maupun sosial. Langkah-langkah ini bukan hanya untuk dijalani selama satu bulan, tetapi juga sebagai bekal untuk kehidupan setelahnya.

1. Memperbaiki hubungan dengan Allah

Baca Juga:War Takjil & Ngabuburit: Bukti Serunya Toleransi di Bulan Suci Ramadhan Kecelakaan Maut di Banjar Akibatkan Pengendara Motor Meninggal Dunia

Memperbaiki hubungan dengan Allah bisa dimulai dari hal-hal sederhana tapi konsisten. Misalnya, lebih disiplin menjaga shalat lima waktu. Bukan cuma sekadar kewajiban, tapi benar-benar dijalani dengan hati yang hadir dan sadar.

Shalat yang dilakukan tepat waktu melatih tanggung jawab sekaligus jadi pengingat bahwa di tengah kesibukan, ada kewajiban yang nggak boleh diabaikan.

Selain itu, memperbanyak do’a dan dzikir dalam keseharian juga jadi cara untuk mendekatkan diri. Do’a nggak harus panjang atau terdengar indah, yang penting tulus dan jujur dari hati.

Membaca dan memahami Al-Qur’an pun jadi langkah penting, supaya kita nggak hanya membaca hurufnya, tapi juga mencoba mengerti pesan dan maknanya dalam kehidupan sehari-hari.

‎Berani bertaubat dari kesalahan masa lalu. Mengakui kekeliruan, menyesal, lalu berusaha memperbaiki diri adalah bentuk kesungguhan. Prosesnya mungkin nggak mudah, tapi setiap usaha kecil tetap berarti. Sedikit demi sedikit, yang penting terus berjalan ke arah yang lebih baik.

2. Melatih pengendalian diri

Melatih pengendalian diri bukan hal yang instan, tapi bisa dibiasakan perlahan. Salah satunya dengan belajar menahan amarah. Saat emosi datang, nggak semua hal harus langsung diluapkan. Menarik napas, diam sejenak, atau menunda respon bisa mencegah penyesalan di kemudian hari.

0 Komentar